-->

Senin, 28 Januari 2013

Landscape Winter

Meskipun saljunya timbul tenggelam tetep saja aku senang memotretnya, tapi itu juga lihat situasi dan kondisi memotrretnya, yah paling kebanyakan kalau keluar rumah buat buang sampah sekalian muter ke jalan buat poto-poto alam.

 
 
 
 









 

Sabtu, 26 Januari 2013

Spa Pertama Gibran

Tiga Hari yang lalu pesanan dari e-bay datang, neck ring yang sudah lama di tunggu dari Hongkong, ya lumayan murah dibanding harus ambil dari rumah di Indo mahal ongkirnya dibanding harga neck ringnya.
 
Padahal waktu mau ke sini semuanya sudah dipacking termasuk swim trainer Zidan tapi berhubung yang dibawa segambreng jadi yang dibawa yang utama saja, asumsinya di sini juga kita bakal belanja lagi, ternyata harganya mahal gak kaya di Indo, I Love My Country Full.

Kenapa gak beli aja di Amazon yang deket? Hihi di amazon harga neck ring MAHAL sama dengan 4x nya dari e-bay!! Jadi keingetan untuk review belanjaan OL di sini, someday lah kalo draftnya masih ada hehe.....so sibuk dan kaya yang banyak aja yang sudah dipost-innya, ya biasa ibu-ibu kalau lagi datang malasnya, buka blog sih iya, tapi kadang malah sibuk bloggwalking bukan ngurusin yang jadi topik bahasan utama ketika buka laptop.

Anyway ya sudah lah kita kembali lagi pada judul kita kali ini, Spa pertama Gibran.

Tahapan spa untuk bayi tak jauh berbeda dengan spa untuk orang dewasa, namun semuanya diberikan dengan porsi dan fungsi yang disesuaikan dengan kebutuhan bayi. Spa untuk bayi juga penting untuk mendeteksi kelainan tubuh sejak dini karena bayi belum bisa mengadu pada orangtuanya bila badannya merasa sakit atau keseleo. Dengan melakukan spa, tubuh sang bayi akan "diperbaiki" sekaligus merasakan relaksasi yang nyaman serta baik untuk perkembangan jiwanya. Umumnya, spa untuk bayi terdiri dari berenang, berendam, serta pijat (massage).
Saat berenang, seorang bayi akan terlatih gerakan motoriknya karena kaki dan tubuhnya akan bergerak-gerak, selain juga akan mencegah gangguan pernafasan. Sementara saat berendam, bayi akan melakukan relaksasi karena umumnya anak-anak saat ini memiliki tingkat stres yang lebih tinggi. Yang perlu diingat, saat bayi Anda berenang maupun berendam, air yang digunakan tidak boleh terlalu panas karena dapat membuat pembuluh darah perifer melebar yang akan mengurangi aliran darah ke jantung.

Testimoni sedikit nih, 2 tahun yang lalu Zidan lahir belum cukup umur, berat badannya lebih kecil dibanding Gibran, bilirubin tinggi, setelah dirawatpun gak mau nenen,setelah aku praktekan spa bayi, Alhamdulillah banyak sekali manfaatnya selain nenennya tambah sering itu berimbas pada ASI yang semakin banyak dan lancar, dan berat badannya pun bertambah terus setiap bulannya.

Sedangkan pijat pada bayi selain memberikan manfaat relaksasi, juga akan membantu memperbaiki pencernaan serta memperlancar sirkulasi darah sang bayi. Umumnya bayi sering mengalami masalah pencernaan saat menyusui. Dengan pijat ini, masalah pencernaan yang disebut kolik atau kembung ini akan teratasi karena usus akan bekerja dengan baik saat mencerna ASI.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Touch Research Institute di University of Miami School of Medicine, Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa berat badan bayi yang terlahir prematur akan naik sebesar 47% setelah dipijat sebanyak 3 kali sehari dengan durasi masing-masing 15 menit, yang dilakukan selama 10 hari. Hal tersebut disebabkan karena stimulasi pijat akan merangsang syaraf vagus otak yang melepas sekresi hormon penyerap makanan, termasuk juga insulin. Selain itu pijatan juga diketahui akan melepas zat yang mirip dengan serotonin, yaitu neurotransmitter yang dapat mengatasi rasa sakit serta menurunkan hormon stres.

Meski begitu, pijat yang sama pentingnya dengan asupan vitamin dan mineral bagi bayi ini harus dilakukan dengan teknik yang benar sesuai dengan fase pertumbuhan sang anak. Hal tersebut dikarenakan oleh fisik bayi yang masih rapuh dan memiliki sensitivitas berlainan. Teknik pemijatan yang dilakukan juga janganlah terlalu keras karena tulang bayi masih lunak. Selain itu alur pemijatan juga harus mengikuti peredaran darah dan metabolisme tubuh.

Menurut ahli fisiotherapy, Ninik Sutini, dalam talkshow Solusi Sehat di Surabaya, Baby Spa dari sudut pandang Fisiotherapy Pediatric sangat diperlukan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

menurutnya, ada 4 aspek yang bisa dioptimalkan melalui baby spa, yaitu perkembangan motorik kasar, motorik halus, personal social, dan Bahasa.
Hal pertama yang dilakukan yaitu, memijat bayi diusahan 30 menit setelah nenen supaya tidak kehausan dan rewel, aku pijatnya mencontoh dari You Tube pijat bayi dari produk perawatan bayi "JNJ"

yang penting sih anaknya dalam keadaan fit, setelah itu dimasukan ke kolam buat bayi berenang dengan menggunakan neck ring tentunya supaya lebih aman, karena di sini kita tidak punya kolam bayi jadi pakai bathtub yang ada aja. 

Yang bikin seneng waktu dipakaikan neck ring Gibran diam saja gak berontak, dan waktu dimasukan ke bathtub pun Gibrn senang, kakinya langsung digerak-gerakan seperti berenang.

Manfaat spa bayi menurut para ahli yaitu pada satu tahun pertama setelah rutin melakukan SPA BAYI, si kecil akan terlihat lebih ceria, tidak takut alias punya percaya diri yang tinggi. Kedepannya dia akan tumbuh menjadi sosok yang sehat, lebih supel, punya inisiatif, dan siap menjadi calon pemimpin generasi penerus bangsa.



 

Kamis, 24 Januari 2013

Bagaimana Mengajarkan Anak Bahasa Inggris

Sumber: di sini

Bagi homeschooler kemampuan bahasa Inggris sangat diperlukan karena 90% materi pendukung dari internet menggunakan bahasa Inggris. Dengan kemampuan bahasa Inggris juga membuat kesempatan untuk mendapatkan ijazah International terbuka lebar.

Lalu kapan dan bagaimana cara mengajarkan Bahasa Inggris bagi anak sehingga anak bisa menggunakan bahasa Inggris secara utuh ?. Menggunakan bahasa Inggris secara utuh berarti anak tidak hanya bisa mengerti apa yang dia baca dalam bahasa Inggris, tapi dia juga bisa memahami apa yang dia dengar, berbicara dan menuliskan gagasan-gagasannya dalam bahasa Inggris.

Bahasa Inggris memang sebaiknya diajarkan sejak usia dini.
Alasannya, otak anak masih plastis dan lentur, sehingga proses penyerapan bahasa lebih mulus. Lagi pula daya penyerapan bahasa pada anak berfungsi secara otomatis. Walaupun demikian pengajaran hendaknya dimulai ketika anak sudah mampu berkomunikasi dengan bahasa ibunya yaitu sekitar umur 4 tahun. Karena akan terlalu berat bagi anak apabila harus memepelajari lebih dari satu bahasa pada saat bersamaan. Mempelajari dua bahasa secara bersamaan hanya akan membuat anak bingung memilih bahasa mana yang akan digunakan. Kecuali apabila komunikasi dilakukan secara intensif dengan 2 orang yang berbeda. Misalnya Ibu berbicara dengan bahasa Indonesia dan Ayah berbicara dengan bahasa Inggris secara konsisten. Tidak saling tukar menukar bahasa. Untuk info lebih lanjut silahkan lihat disini.

Pengajaran bahasa Inggris dilakukan secara bertahap. Sama halnya dengan belajar bahasa Indonesia anak tidak langsung belajar berbicara, membaca dan menulis secara bersamaan.

Sebelum bisa berbicara dalam bahasa indonesia anak harus mendengarkan terlebih dahulu bahasa Indonesia. Kalau dia tidak pernah mendengar bahasa tersebut, tidak mungkin dia dapat berbicara. Itu sebabnya biasanya anak yang tuli sejak lahir juga otomatis bisu karena dia tidak bisa mendengar sehingga tidak bisa menirukannya. Jadi pada intinya belajar bahasa apapun caranya sama.

Berikut adalah tahapan-tahapan dalam belajar Bahasa Inggris yang saya sedang terapkan:
1. Listening ( Mendengar)
Selain mendengar kita berbicara anak juga bisa belajar mendengar dengan cara dibacakan buku cerita dalam bahasa Inggris (silahkan lihat daftar perpustakaan digital yang ada disisi sebelah kanan blog ini), mendengar nyanyian sederhana seperti Nursery Rhyme ataupun dengan menonton TV dan VCD berbahasa Inggris. Tapi untuk awal pilih yang kata-katanya sedikit dan sederhana.

2. Speaking ( Berbicara )
Setelah anak sering mendengar dalam bahasa Inggris, anak bisa di didorong untuk berbicara dalam kalimat-kalimat sederhana. Saya awalnya punya kesulitan untuk mengajak anak mau berbicara dalam bahasa inggris. Sampai akhirnya saya menemukan Genki English website belajar bahasa Inggris as Second Language untuk anak-anak. Situs ini berisi berbagai percakapan sederhana yang diubah dengan menjadi lagu dengan ilustrasi yang lucu dan menarik. Sehingga anak menjadi familiar dan mau mencoba berbicara.

Sekarang saya menerapkan waktu 30 menit sehari sebagai waktu keluarga untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Layaknya anak usia tahun baru memulai bicara, Rafif juga memulai berbicara dalam bahasa inggris hanya dengan satu kata misalkan car (mobil) ketika ingin mainan mobil-mobilannya. Sekarang dia sudah bisa berbicara dalam kalimat pendek seperti i want car.

3. Reading ( Membaca)
Ada 2 metode umum mengajarkan anak belajar membaca dalam bahasa Inggris yaitu Whole Language Approach dan Phonic.

Whole Language Approach adalah suatu metode belajar membaca dengan menjadikan bahasa sebagai satu kesatuan tidak terpisah-pisah. Belajar membacanya juga sesuai dengan konteksnya. Metode ini lebih menekankan pada arti suatu kata. Contohnya ketika melihat kata cat (kucing) anak langsung diberitahu bahwa itu bacanya "ket" dan itu artinya kucing. Biasanya anak belajar membaca dengan sistem mengingat (memorize) kata yang sudah pernah disebutkan. Kelebihan metode ini adalah anak lebih cepat bisa membaca tapi akan kesulitan ketika harus menuliskan kata yang dimaksud terutama kata-kata yang cukup panjang.

Phonic adalah suatu metode belajar membaca melalui bunyi huruf dengan cara mengejanya satu persatu misalkan saja cat (kucing) berarti dibaca Keh-e-teh menjadi "ket". Setiap kata diurai menjadi huruf-huruf. Karena belajar melalui mengeja maka anak memerlukan waktu lebih lama untuk bisa membaca. Tapi kelebihannya anak lebih mudah ketika harus menuliskan kata yang dia dengar. Apabila anda ingin mengajarkan membaca dengan metode Phonic anda bisa berkunjung ke sini.

Untuk memudahkan anak belajar membaca sebiaknya pilih buku-buku yang sesuai dengan tingkatannya. Misalkan anak yang baru mulai membaca pilih buku-buku yang hanya terdiri dari satu kata misalkan halaman pertama ada gambar buah apel dan dibawahnya ada tulisan This is Apple. Setelah itu bisa dicoba dengan kata yang lain misalkan I like banana. Anda bisa membuat sendiri buku-buku seperti itu atau mendapatkannya melalui Reading A to Z.

3. Writing ( Membaca )
Ini adalah tahapan yang paling sulit dalam belajar bahasa Inggris karena ada banyak aturan yang harus dipatuhi. Biasanya orang Indonesia pasti akan kesulitan untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Sebenarnya bukan karena tidak bisa melainkan karena takut salah. Padahal kalaupun kita salah mengucapkan susunan beberapa kalimat ataupun salah tata bahasanya lawan bicara kita pasti akan mengerti. Tapi lain halnya dengan menulis, ketika kita melakukan banyak sekali kesalahan tata bahasa dan cara pengejaan bisa jadi orang yang membaca tulisan kita tidak mengerti apa yang kita tuliskan.

Karena ini relatif sulit, maka menurut hemat saya menulis menjadi tahapan terakhir. Jangan terburu-buru mengajarkan grammar atau menulis jika anak belum menguasai 3 tahap sebelumnya. Untuk mengajarkan Grammar sebaiknya dilakukan secara implisit melalui buku yang berisi kalimat-kalimat yang berpola sama. Misalkan saja apabila halaman pertama berisi kalimat past tense maka halaman-halaman berikutnya juga berpola past tense. Sehingga setelah beberapa kali pengulangan anak bisa mendapatkan gambaran kapan kalimat bentuk past tense itu digunakan.

Jika anak diajarkan grammar secara eksplisit yaitu melalui dengan penjelasan panjang lebar mengenai past tense lengkap dengan rumus yang harus dihapal maka anak akan kebingungan dan akhirnya malah merasa takut untuk menulis. Seperti juga ketika berbicara anak sebaiknya memulai dengan menulis satu kata, kemudian satu kalimat pendek, lalu satu kalimat panjang, terus satu paragraph dan seterusnya. Mungkin nanti tanpa anda sadari tiba-tiba anak sudah bisa menulis satu buku dalam bahasa Inggris.

Wah sepertinya ini artikel terpanjang saya :) Jika anda mempunyai pertanyaan atau tips yang ingin dibagi silahkan mengisi komentar. Saya juga masih perlu belajar banyak. Sehingga saya akan sangat berterima kasih jika ada yang memberikan pengalamannya.


Minggu, 20 Januari 2013

Main ber empat

Senang kalau liat anak-anak lagi pada main dan bercanda, apalagi liat di poto ini 2 bocah lagi pada naik kuda, yang jadi kuda-kudaannya ayahNYA, hehe

 

Jumat, 11 Januari 2013

Hasil Poto Hunting Zidan

Zidan lagi senang sekali memotret setiap ibu atau ayah motret langsung aja kamera diambilnya, "Zidan aja yang poto", dikasih arahan sekali aja udah bisa cuman kadang lensanya masih tertutup oleh tangannya tapi banyak juga hasil jepretannya yang bagus

Kamis, 10 Januari 2013

Belajarnya Zidan

Belajar tidak usah harus duduk manis di kursi tapi proses belajar dapat dilakukan anak di manapun entah itu bermain atau hanya sekedar melihat dan mendengar, karena anak dalam masa keemasan otaknya bagaikan spon yang dapat menyerap ilmu dengan mudahnya, tinggal kita sebagai orang tuanya yang akan mendidiknya seperti apa

 

Mengubah Kebiasaan

Sudah beberapa hari ini membiasakan Zidan untuk tidak menonton TV atau membuka Laptop hanya untuk melihat You Tube kesukaannya, alhamdulillah berhasil mengalihkannya, dan mulai kemarin semua mainan Zidan, sudah ibu simpan di tempat yang tersembunyi kecuali mainan City Block dan buku-buku miliknya sengaja ibu simpan pada tempatnya mudah-mudahan bisa lebih teratur dan terarah lagi mainnya supaya tidak seenaknya memberantakan mainan dan mulai bisa mendisiplinkan dari hal kecil.

Alhamdulillahnya, Zidan tidak rewel karena malam sebelumnya ibu sudah kasih Warning kalo semua mainannya diberantakan tidak disimpan pada tempatnya ibu akan buang, dan Zidan sudah tau akan konsekuensi itu dari sebelum-sebelumnya , jadi tidak kaget lagi, ya mungkin mainan lama akan dikeluarin lagi beberapa hari kedepan, jadi ibu mau kasih jadwal aja mainan apa yang akan dimainkan, soalnya cape juga kalo semua diberantakan terus dan anak belum mengerti 100% tanggungjawabnya, lebih baik antisipasi duluan hehehe.

Sekarang ini mulai melatih anak dengan metode audio untuk mengasah konsentrasi pendengaran, tapi itu juga baru sebatas mendengarkan musik dan murotal, alhadulillah Zidan sudah mulai menunjukan kepedeannya dalam hapalan.

Dan yang lebih senangnya sudah dua hari ini Zidan sudah tidak minta nenen lagi  mudah-mudahan Weaning With Lovenya berhasil, kadang suka kasihan melihatnya tapi itu adalah program pendisiplinan terhadap anak untuk weaning, kalo ibunya sendiri tidak disiplin ya tidak akan berhasil semua program yang diterapkan.

Tapi belum berhasil untuk program Toilet Training gimana mau berhasil  kalau semua dilakukan  masih setengah-setengah dijalankannya, padahal hal itu sudah dilakukan beberapa bulan lalu, kuncinya memang harus benar-benar disiplin, mudah-mudahan beberapa minggu ke depan akan berhasil setelah semuanya bisa berjalan normal.

Jumat, 04 Januari 2013

Tidurnya Gibran

Sudah bebapa hari ini tidurnya Gibran di atas perut setelah sebelumnya nenen seperti IMD, jadi ingat dulu waktu Zidan masih bayi juga sama tidurnya pulas kalo di atas perut, eh sekarang ngalamin juga pada Gibran dan sudahnya juga sama tidurnya tengkurep kalo dipindah ke kasur tapi kalo Gibran tidur tengkurepnya menakutkan karena mukanya nyungsep jadi takut SID aja.

Belajar melalui Permainan

Bermain adalah hal yang begitu menyenangkan buat anak-anak, karena masa kecil itu tidak akan datang lagi di masa yang akan datang, maka dibuatlah cara dan trik supaya anak bisa belajar sesuatu yang berguna tanpa harus duduk manis di kursi membaca buku dengan serius, atau sekolah, karena dengan bermainpun anak telah belajar sesuatu.

Setahap demi setahap sudah ibu terapkankan mudah-mudahan sukses ke depannya, tiap hari selalu ada ilmu baru dan metode baru bagaimana supaya anak merasa tertarik dengan apa yang kita ajarkan atau arahkan, membiarkan anak melakukan dengan caranya sendiri sama dengan membiarkan mereka untuk belajar dengan caranya, tinggal kita observasi apa minatnya, saya setuju dengan montessori yang membiarkan anak melakukan sendiri tapi sebelumnya ada direction dulu dari kita.

Setiap anak adalah unik, setiap blogwalking punya ibu-ibu "BULE" yang menerapkan montessori di rumahnya kadang suka salut liat dari foto dan videonya mereka sudah benar-benar teratur, kalo Zidan masih berantakan, overall aku bangga sebagai ibu rumah tangga with 2 kids hehehe apa maksudnya ya?

Tadi pagi terlintas aja buat bikin poster yang ditempel seperti pelajarannya Zidan, cuman kali ini ibu bikin poster suku kata dan angka dari 1-20, pas sudah diprint Zidan langsung nyanyi-nyanyi seperti di Youtube yang sering ditontonnya setelahnya ibu bikin games flashcard suku kata dan angka yang kemarin dibuat untuk dicocokan dengan poster yang telah dibuat tadi pagi, senangnya kalo anak juga senang dengan apa yang telah dibuatkan untuknya.

Tidak Mengigau

Setiap tidur Zidan selalu ngigau dan gak pulas, setelah googling katanya gak bahaya tapi kalo keseringan risau juga kasian karena liat penyebabnya yang aku sendiri jadi sadar, pas tadi malam karena jam tidur siangnya jadi tambah sore dan ketika ayahnya pulang suka terbangun lagi, aku mulai menerapkan ilmu baru, karena baru bangun jam 6 malam jadi untuk tidurnya lagi agak susah aku ajak main di atas kasur setelah semua lampu dimatiin, aku bernyanyi lagu kesukaan Zidan diselingi hapalan surat, meski kadang Zidan protes, harus sesuai keinginannya aja, tapi aku harus konsisten buat membalancekan semuanya ya dunia, ya akhirat...............................

Bermainnya sih sederhana cuman efeknya alhamdulillah Zidan gak ngigau dan pules, dan sedikit demi sedikit mengurangi jam nenennya, paling nenennya pas mau subuh aja.

Hari ini juga tidurnya cepat selain sudah cape bermain mungkin karena senang hari-hari yang telah dilaluinya, anak juga merasa apa yang telah dilaluinya dengan bahagia atau tidak, Ibu jadi merasa bersalah kemarin-kemarin sering ngigau karena banyak faktor salah satunya sering aku larang untuk nenen waktu mau tidur, tapi perlahan Zidan sudah mulai bisa dibilangin meski tidak seratus persen berhasil weaningnya.





 

Supaya Anak tidak Susah Makan, Coba Dulu Kiat Ini

Rabu, 12 Desember 2012, 15:13 WIB
fit-geek.com
Supaya Anak tidak Susah Makan, Coba Dulu Kiat Ini
Anak pilih-pilih makanan/ilustrasi
REPUBLIKA.CO.ID, Anak pemilih makanan atau picky eater mesti mendapatkan penanganan yang tepat dan segera. Jika dibiarkan, ia akan mengalami gangguan pertumbuhan berat badan. Secara normal, sejak menginjak usia dua tahun, berat badan anak akan bertambah dua kilogram setiap tahun. Pada anak yang sulit makan, berat badan cenderung akan tetap dalam jangka waktu yang lama. Tidak hanya berat badan yang bermasalah, tinggi badan pun demikian. Anak tidak bertambah tinggi dalam jangka waktu yang lama bila makannya sulit. Selain itu, daya tahan tubuh si kecil juga tidak baik.
Gangguan tersebut bisa sembuh dengan sendirinya di atas usia tujuh tahun. Namun, asupan gizi yang seharusnya didapat saat masih balita akan terlewatkan. Tumbuh kembang dan kecerdasan otaknya bisa terdampak akibat nutrisi yang kurang baik. Anak picky eater berisiko kekurangan zat besi, kalsium, ataupun protein. Pemberian vitamin bukanlah jalan keluar, justru akan menutupi gejala kesulitan makan yang ada.
Jika anak mengalami kesulitan makan, jangan dimarahi atau dibiarkan. Hal pertama yang dilakukan orang tua, yakni mengenali gejala kelainan makan terlebih dahulu. Cari tahu dulu penyebab si kecil sulit makan. Jika menemukan gejala-gejala picky eater, konsultasilah ke dokter anak.
Picky eater bisa diperbaiki dengan beberapa cara. Bila si kecil mengalami kelainan makan karena gangguan pencernaan, sebaiknya hindari makananmakanan yang menjadi penyebabnya. Jika anak me ngalami kelainan makan karena faktor oromotor, sebaiknya diberikan terapi sederhana. Gangguan ini bisa diperbaiki dengan menggunakan sikat gigi listrik. Ketika minum, sebaiknya menggunakan sedotan.

Tips Agar Anak tidak Menjadi Manja

Tips Agar Anak tidak Menjadi Manja

Jumat, 14 Desember 2012, 09:00 WIB
Acaai.org
Tips Agar Anak tidak Menjadi Manja
Alergi juga bisa disebabkan oleh makanan. Ilustrasi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menurut Psikolog Anak Alzena Masykouri MPsi, salah satu faktor utama yang membuat anak menjadi manja adalah lingkungan atau orang orang yang berada disekitarnya. Karena itu jangan sepenuhnya menyalahkan si kecil jika dia tumbuh menjadi anak yang manja
Lalu bagaimana kiatnya agar anak tidak menjadi manja? Tips kecil berikut mungkin bisa menjadi bekal Anda membuat si kecil menjadi lebih mandiri.
Biarkan Dia Mandiri
- Latih anak melakukan aktivitasnya sendiri, meskipun kualitas yang dia hasilkan masih belum sempurna. Biarkan saja dia makan sendiri, walaupun masih berantakan.
- Tumbuhkan dan kembangkan perasaan yakin akan kemampuannya dengan memberikan kesempatan untuk latihan dan menghargai hasil usaha anak. Beri pujian saat dia berhasil tetapi jangan berlebihan.
- Melayani anak dilakukan jika anak sama sekali tidak dapat melakukan suatu aktivitas sendiri. Misalnya memotong-motong ayam atau daging ketika makan atau mengambilkan mainan dari atas lemari yang tinggi.
Redaktur: Yudha Manggala P Putra
Sumber: Parents Indonesia

Kamis, 03 Januari 2013

Ibu Kurang Akrab dengan Anak, Inilah Solusinya

Ibu Kurang Akrab dengan Anak, Inilah Solusinya

Senin, 20 Agustus 2012, 06:32 WIB
mommyish.com
Ibu Kurang Akrab dengan Anak, Inilah Solusinya
Sayang anak
REPUBLIKA.CO.ID, Lantaran sibuk bekerja, boleh jadi ibu kurang akrab dengan buah hatinya sendiri. Jangan kecil hati, Bu. Asalkan tetap berusaha, ibu tetap bisa dekat dengan anak. Berikut tipsnya

Menjaga Kelekatan
Sebisa mungkin jika ibu perlu bekerja, usahakan mencari pekerjaan yang tidak terlalu menyita waktu. Minimnya waktu di rumah menyulitkan ibu untuk mengontrol perkembangan buah hati. Akan tetapi, tak perlu berkecil hati andaikan pekerjaan seperti itu sukar diraih. Masih ada jalan untuk menjalin kelekatan dengan anak.

Jangan berhenti berusaha
Cari jalan agar selalu bisa dekat secara emosional dengan buah hati. Jadilah orang yang dicari anak ketika ia sedang terlibat masalah, bersedih, atau sedang memerlukan sosok yang bisa dipercaya. Ibu yang seharian berada di rumah, tetapi tak memberikan sentuhan dan perhatiannya tak lebih baik dari ibu bekerja yang larut mengejar karier.

Luangkan waktu
Pada hari kerja, sempatkan waktu untuk bercengkerama dengan anak. Pagi hari sebelum berangkat kerja atau sepulang kantor, alokasikan berapa menit pun waktu yang ada sebagai saat bermain. Bahkan, 30 menit juga cukup asalkan digunakan secara berkualitas. Selama setengah jam tersebut, lupakan hal lain dan hadirlah secara utuh ke hadapan ananda. Libatkan perasaan Anda saat berinteraksi dengan si kecil.

Berlibur bersama
Ketika libur panjang, manfaatkan untuk bersantai sambil menjalin keakraban dengan seluruh anggota keluarga. Ciptakan suasana yang menyenangkan dan membuat anak melupakan kejadian yang tidak baik. Berlibur juga dapat mendekatkan hubungan ibu dan ayah sehingga terjadi keharmonisan dalam keluarga.

Redaktur: Endah Hapsari
Reporter: Reiny Dwinanda

Bolehkah Orang Tua Curhat pada Anak

Bolehkah Orang Tua Curhat pada Anak?

Senin, 10 September 2012, 10:07 WIB
kirschnerskorner.wordpress.com
Bolehkah Orang Tua Curhat pada Anak?
Ibu dan anak sedang berbincang/ilustrasi
REPUBLIKA.CO.ID, Dalam kehidupan berkeluarga, tak jarang suami istri terlibat dalam konflik. Untuk meredakan kekesalan, terkadang kita pun membutuhkan saluran untuk mencurahkan hatinya. Namun, siapakah orang yang tepat untuk menjadi tempat curhat? Bagaimana dengan anak?
Menurut pakar, hal ini boleh saja dilakukan. Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan lebih dahulu sebelum curhat pada anak di antaranya:
1. Usia, kemampuan berpikir, dan kehidupan emosi, perasaan anak. Kemampuan anak berpikir berkaitan erat dengan usianya. Perkembangan otak anak akan mencapai kesempurnaan pada usia sekitar 7 tahun. Di usia ini anak telah mulai menunjukkan kemampuan berpikir yang lebih baik.
Untuk masalah keluarga yang sederhana seperti bagaimana menjaga kerapian rumah, kamar, dan diri sendiri, Ibu bahkan sudah dapat melibatkannya lebih dini. Misalnya, pada usia 4-5 tahun Ibu akan tercengang dengan ide-idenya.
Hasil penelitian tentang pengasuhan yang dilakukan di luar negeri menunjukkan bahwa masalah keuangan sebaiknya tidak dibicarakan atau tidak ditunjukkan pada anak di bawah usia 6 tahun. Jadi, kalau sekedar imbauan dan aturan untuk berhemat tidak apa. Tapi, usahakan untuk tidak mendiskusikan apalagi bertengkar masalah keuangan dihadapan anak berusia di bawah 6 tahun. Akibatnya akan sangat mempengaruhi bagi sikap dan kelakuannya yang menyangkut keuangan di masa depannya .

2. Hal lain yang perlu juga kita sadari adalah sebenarnya anak diciptakan Allah memiliki jiwa yang sangat peka terhadap masalah yang dihadapi oleh kedua orangtuanya. Dahi yang berkerut, urat leher menegang, bahu yang terangkat apalagi suara yang keras telah mampu dibaca oleh anak sejak usianya sangat dini, bahwa orangtuanya bermasalah.
Oleh sebab itu, bila ketegangan dan pertengkaran tak dapat dielakkan, orang tua berkewajiban memberikan penjelasan sesuai usia anak tentang apa yang terjadi dengan kalimat pendek, tetapi jelas. Misalnya, jika mempunyai anak usia 3 tahun yang menyaksikan pertengkaran kecil antara Ibu dan Bapak. Setelah itu selesai, Ibu mencoba mengendalikan emosi dan mengatakan pada anak dengan suara rendah: ''Maaf ya Nak, tadi suara Mama dan Ayah jadi tinggi. Kami agak marah, ada yang kurang cocok pikirannya.''
Kalau anak sudah sedikit lebih besar, kita dapat menambahkan, ''Hal seperti ini biasa terjadi antara orang dewasa!.'' Ini penting dilakukan agar anak mengerti apa yang terjadi dan untuk meredakan ketegangan dan kecemasan yang dimilikinya.
Kalau Ibu sudah biasa melibatkan anak dalam masalah keluarga tersebut, kalau anak sudah menjelang remaja atau remaja, Ibu bahkan boleh bertengkar, argumentasi di hadapan mereka dan meminta mereka memberikan penilaian. Hanya saja kedua orang tua perlu bersikap terbuka dan obyektif dalam menerima penilaian tersebut. Tentu saja jenis masalahnya juga harus dipertimbangkan.

3. Dalam melibatkan anak memeikirkan masalah keluarga yang penting adalah menjaga objektifitas kita sendiri sebagai orang tua. Kita tidak membentuk opini atau mencari 'persekongkolan' atau pemihakan . Ini sangat tidak mudah, karena kalau tidak pandai mengemukakan masalah, anak mudah terwarnai perasaan maupun pikirannya terhadap orang dengan siapa kita orang tuanya mengalami masalah. Dan, bila ini terjadi tidak sehat bagi perkembangan kemampuan anak dalam yang bijaksana.
Pelibatan anak haruslah dalam kerangka melatih mereka dalam sekurang-kurangnya ketiga hal tersebut di atas. Jadi, bila Ibu misalnya bermasalah dengan adik ipar atau paman mereka, maka Ibu harus mengatakan terlebih dahulu bahwa: ''Ini masalah Mama dengan pamanmu. Kamu tidak punya masalah apa-apa dengan beliau. Mama cuma minta pendapatmu. '' Lalu, Ibu ceritakan masalahnya. Apa yang sering terjadi, orang tua terlupa mendudukkan masalahnya ketika melibatkan anak, sehingga anak mudah jadi ikut-ikutan.

4. Keadaan dan situasi anak juga perlu dipertimbangkan. Jangan melibatkan anak bila mereka sendiri sedang dalam atau menghadapi banyak masalah. Cara penyampaian masalah juga penting. Hindari menyampaikannya ketika emosi kita sedang tinggi. Sehingga kawatir jalan keluar yang diperoleh juga tidak atau kurang bijaksana.

Redaktur: Endah Hapsari

Supaya Terus Disayang Anak, Begini Cara yang Efektif (1

Supaya Terus Disayang Anak, Begini Cara yang Efektif (1)

Kamis, 16 Agustus 2012, 07:07 WIB
chatterchimp.wordpress.com
Supaya Terus Disayang Anak, Begini Cara yang Efektif (1)
Sayang anak/ilustrasi
REPUBLIKA.CO.ID, Setiap orangtua menanggung beban yang luar biasa dalam membentuk anak nantinya. Di tangan mereka anak akan terbentuk bagaimana kepribadiannya, bagaimanan bersosialisasi, bagaimana menyesuaikan dan mengendalikan diri, bagaimana kemampuan berpikirnya, dan masih banyak lagi. "Semua akan menentukan berhasilan dan kemandirian anak kelak, serta keberhasilannya sendiri ketika menjadi orangtua," kata Dosen Dn Ketua Pusat Krisis Fakultas Psikologi UI Dr Frieda Mangunsong MEd Psi.

Ketua Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia (APPI) itu memberikan 10 resep bagaimana agar orangtua menjadi efektif dalam mendidik anak-anak balita mereka. Faktor-faktor yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

Kenali anak Anda
"Anak menyerap semua yang diperlukan oleh orangtuanya," tutur Frieda. Jadi, kalau orangtuanya di rumah banyak senyum anak akan mengikuti kebiasaan itu hingga murah senyum.

Jangan anggap enteng
Terapkan positive parenting,yaitu menghargai perilaku baik anak sebanyak-banyaknya dan menghukum sesedikit mungkin.

Libatkan dalam kegiatan keluarga
"Anak seperti halnya orang dewasa, akan merasa senang bila dia merasa berguna," tukas peraih master di bidang pendidikan Luar Biasa dari The National College of Education di Evanston, AS itu

Memanfaatkan setiap kesempatan
Bepergian bersama anak dalam kendaraan menjadi waktu yang amat berharga. Selam perjalanan gunakan untuk mengobrol dengan anak.

Sediakan waktu khusus
Bagi ibu-ibu yang bekerja sampai harus meninggalkan rumah dalam waktu lama, mungkin agak bingung bagaimana memberikan waktunya untuk si kecil. Menurut Frieda, yang penting kualitasnya, bukan kuantitasnya.
Redaktur: Endah Hapsari
Reporter: Nina Chairani
 

Supaya Terus Disayang Anak, Begini Cara yang Efektif (2)

Kamis, 16 Agustus 2012, 07:14 WIB
mommyish.com
Supaya Terus Disayang Anak, Begini Cara yang Efektif (2)
Sayang anak
REPUBLIKA.CO.ID,
Setiap orangtua menanggung beban yang luar biasa dalam membentuk anak nantinya. Di tangan mereka anak akan terbentuk bagaimana kepribadiannya, bagaimanan bersosialisasi, bagaimana menyesuaikan dan mengendalikan diri, bagaimana kemampuan berpikirnya, dan masih banyak lagi. "Semua akan menentukan berhasilan dan kemandirian anak kelak, serta keberhasilannya sendiri ketika menjadi orangtua," kata Dosen Dn Ketua Pusat Krisis Fakultas Psikologi UI Dr Frieda Mangunsong MEd Psi.

Ketua Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia (APPI) itu memberikan 10 resep bagaimana agar orangtua menjadi efektif dalam mendidik anak-anak balita mereka. Faktor-faktor yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

Tegakkan disiplin
Selain positive parenting anak juga perlu belajar ada perilaku yang benar-benar tidak bisa diterima sehingga perlu ada penegakkan disiplin. Namun, ibu juga harus konsisten menegakkan disipllin. Jangan sampai itu dilakukan berdasarkan mood ibu.

Jadi contoh bagi anak
Anak lahir tanpa tahu apa-apa bukan? Nah, mereka itu peniru ulung. Apa yagn dia lakukan adalah imitasi apa yang dilakukan orangtuanya. Bukan dari apa yang dia dengar melainkan apa yang dia amati.

Ungkapkan kasih sayang anda
Setiap orangtua tentu sayang pada anak-anaknya. Namun, jangan pelit ekspresi sayang. Jangan pula menganggap anak tahu, anda sayang pada mereka. Untuk itu ungkapan kasih sayang anda lewat kata-kata, sentuhan berupa belaian, pelukan dan ciuman, lalu tulisan dalam surat pendek yang isinya "Mama sayang kamu"

Komunikasi yang tepat
Mungkin anda menganggap hal berikut sepele. Padahal, besar pengaruhnya. Yakni, jangan meneriakkan perintah atau aturan dari ruang lailn. Itu tidak efektif. Aturan atau perintah harus sespesifik mungkin.
Redaktur: Endah Hapsari
Reporter: Nina Chairani

Ssst... Video Game Bisa Meningkatkan Kecerdasan Anak Lho

Ssst... Video Game Bisa Meningkatkan Kecerdasan Anak Lho

Selasa, 14 Juni 2011, 21:57 WIB
Ssst... Video Game Bisa Meningkatkan Kecerdasan Anak Lho
ilustrasi
REPUBLIKA.CO.ID, Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa video game dapat meningkatkan penalaran abstrak dan kemampuan pemecahan masalah pada anak. Berdasarkan temuan tersebut, peningkatan yang signifikan dalam tugas-tugas yang berhubungan dengan memori kerja diamati pada anak-anak yang menghabiskan lebih banyak waktu bermain game komputer.

Mereka yang meningkat sebagian besar adalah juga yang terbaik di tes tiga bulan kemudian, bahkan jika mereka tidak menunjukkan keuntungan terhadap anak-anak lain pada tes yang diberikan sebelum sesi pelatihan, ungkap laporan penelitian yang diterbitkan dalam Prosiding National Academy of Sciences, Selasa (14/6).

Hasil yang lebih baik dalam tugas-tugas intelijen fluida seperti penalaran abstrak dan pemecahan masalah hanya dicatat pada anak-anak dengan kemampuan lebih baik di dalam pelatihan otak. Perbaikan bahkan berlangsung setelah istirahat tiga bulan dalam pelatihan otak.

"Kedua kapasitas memori kerja dan kecerdasan fluida tersebut dengan mudah dibentuk dengan pengalaman dan pelatihan," kata kepala peneliti Susanne M. Jaeggi. "Namun, Anda harus melatih, dan Anda harus berlatih dengan baik," ujarnya menambahkan.

Para peneliti di Universitas Michigan mengusulkan pelatihan otak melalui video game mungkin bisa membantu siswa di kemudian hari, dibandingkan dengan mereka yang pada tes memiliki nilai baik, yang cenderung untuk melakukannya dengan baik di sekolah dan pekerjaan mereka.
Mereka menekankan bahwa temuan ini menunjukkan bahwa tidak semua video game memiliki kekuasaan pelatihan biasa. "Dampak itu tidak datang gratis," kata Jaeggi. "Ada upaya seperti pelatihan fisik: Anda perlu menjalankan dan tidak hanya berjalan dalam rangka meningkatkan kebugaran Anda," tandasnya.
Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Press TV

Mendidik Hidup Sederhana

Mendidik Hidup Sederhana

Mendidik hidup sederhana (ilustrasi)
 
“Hidup sederhana itu indah,” ujar salah seorang guru saya belasan tahun lalu. Saya sulit melupakan pesan singkat sarat makna ini. Sampai tiba saat saya mendapat pengalaman nyata, yang menyempurnakan pemahaman saya tentang makna hidup sederhana dan mengapa mesti hidup sederhana.

Saat sekolah di bangku SMP sekitar tahun 1995, saya mendapat jatah uang jajan sekolah Rp 1.000,- per hari. Uang itu bisa saya gunakan untuk ongkos naik angkutan umum pulang pergi Rp 300,-, sisanya bisa dibelanjakan sesuai keinginan.

Saya bersyukur bisa mendapat uang jajan, jika melihat banyak teman lain ada yang tak dapat. Bahkan, ada yang mesti jalan kaki pergi dari rumah menuju sekolah.

Entah kesadaran ini datang dari mana. Di usia saya saat itu, saya punya prinsip jangan pernah hamburkan uang untuk sesuatu yang tak bermanfaat. Apalagi digunakan untuk berfoya-foya. Nurani saya selalu mengingatkan, “Tak selamanya hidup ini indah dan serba ada. Belajarlah mengelola uang yang dimiliki.” Bersyukurlah dan bersikaplah yang tepat untuk kelola apa pun yang dimiliki.

Nah, suatu hari saya dipanggil orang tua. Mereka sampaikan satu hal penting, “Sep, Bapak dan Ibu sudah memutuskan bahwa kita sekarang akan memberi jatah uang jajannya bulanan, bukan harian lagi. Kami berikan jatah uang Rp 20.000,-, silakan diatur, pokoknya harus cukup.”

Wah, saya sempat berpikir, apa maksud dari semua ini? Saya kemudian langsung melakukan kalkulasi. Kalau saya hitung-hitung, biaya yang sudah pasti akan digunakan yaitu untuk transportasi Rp 300,- selama 24 hari (hari efektif sekolah pada saat itu dari senin sampai sabtu). Total saya mesti keluarkan Rp 7.200,- agar saya bisa sampai ke sekolah. Sisanya Rp 12.800,-, angka yang cukup fantastis untuk bisa saya gunakan sesuka hati saya pada saat itu.

Jika saya dikendalikan nafsu, apa pun yang saya inginkan, pasti akan dibeli. Uniknya, kesadaran saya selalu menuntun untuk tak hambur-hamburkan uang jajan. Bagaimana perasaan orang tua andai saya bersikap boros dalam menggunakan uang itu?

Meski orang tua tak pernah sampaikan hal ini, tapi saya merasa mereka sedang menguji sikap dan tanggung jawab saya dalam mengelola keuangan. Bukankah ini pembelajaran yang paling nyata untuk melatih pola hidup sederhana?

Sejak duduk di bangku TK, ibu sudah membiasakan anak-anaknya untuk sarapan pagi sebelum berangkat sekolah. Hal itu terus berlangsung sampai saya sekolah di SMA. “Kalau sudah sarapan, mau jajan apa pun silakan,” itu yang sering terucap dari sosok ibu.

Sarapan pagi merupakan salah satu rahasia untuk menjaga kesehatan. Sarapan pagi bisa memberi otak bahan bakar untuk meningkatkan konsentrasi, menghindari makan tak terkontrol, menambah esensi nutrisi serta tingkat keseluruhan energi. Satu yang selalu tertancap di benak, inilah bukti kasih seorang ibu untuk mengantarkan anaknya ketika hendak mencari ilmu.

Kembali ke soal uang jajan, bagaimana nasibnya? Karena saya sudah sarapan, buat apa beli jajanan yang tak penting. Apalagi jika diragukan aspek kesehatannya. Praktis, saya hampir jarang sekali gunakan uang itu untuk jajan di sekolah. Lalu, sisa uang di luar biaya transportasi digunakan untuk apa? Menabung dan belanja buku, dua hal yang saya gemari sejak saat itu hingga hari ini.

Jika soal kebajikan, lihatlah ke atas. Berlomba-lombalah dalam kebaikan. Kita boleh iri jika teman kita lebih rajin ibadahnya, lebih dermawan untuk bantu sesama. Itu iri produktif, kita sebut saja begitu istilahnya. Hasilnya, kita akan selalu termotivasi untuk berbuat baik.

Tapi kalau soal harta, lihatlah ke bawah. Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki saat ini. Jika kita mengeluh soal menu makan, sadarilah masih banyak orang yang tak bisa makan. Jangan terlalu banyak mengeluh soal gaji karena masih banyak pengangguran tak punya pendapatan. Jangan langsung kebakaran jenggot lihat tetangga beli motor baru. Lantas kita segera beli motor juga padahal kita amat tak membutuhkannya. Hanya karena kita kena penyakit susah lihat orang senang. Capek deh..

Bersyukurlah, maka hati pun akan merasa damai tenteram. Jika kenikmatan hidup kita makin bertambah, yakinlah karena Allah SWT, Tuhan semesta alam tak pernah ingkar dengan janji-Nya, melipatgandakan kenikmatan bagi insan yang pandai bersyukur.

Prinsip hidup tersebut yang sangat memengaruhi cara berpikir dan bersikap saya dalam mengelola sisa uang jajan Rp 12.800,-. Tak bersikap boros serta gunakan uang jajan untuk hal bermanfaat, itu pemaknaan wujud rasa syukur saya di usia 13 tahun.

Kini, saya baru sadar sepenuhnya, apa yang dilakukan orang tua merupakan pelajaran paling berharga tentang makna hidup sederhana. Bahkan tak hanya itu, saya juga belajar tentang arti tanggung jawab dalam mengelola keuangan. Inilah hakikat proses pendidikan. Belajar tak mesti dicekoki dengan seabrek teori tentang hidup sederhana. Atau, doktrin harus hidup sederhana padahal orang tua bersikap boros dalam mengelola keuangan keluarga.

Jujur, saya relatif mudah berlaku sederhana karena ibu telah menjadi contoh nyata yang bisa saya teladani. Intinya, langsung praktikkan suatu ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini wajib dilakukan agar anak tak sekadar paham suatu ilmu, tapi juga mampu menghayati ilmu itu sepanjang hidupnya. Sejatinya, itulah proses mendidik.

Coba bedakan dengan kasus satu ini yang sempat dituturkan sahabat lama saya. “Di rumah, orang tua tak bisa kendalikan nafsunya untuk membeli apapun yang diinginkan. Sudah bisa ditebak, apa yang diminta anak, pasti orang tuanya akan penuhi. Jangan heran jika anak seusia SD pun sekarang sudah bawa mobile phone ke sekolah. Anak SMP merasa kurang gagah jika tak tunggangi sepeda motor berangkat ke sekolah. Tanya pada orangtuanya, apakah anaknya memang membutuhkannya atau sekadar untuk pamer saja?” curhat sahabat saya yang berprofesi menjadi guru.

Sungguh amat melelahkan memang, andai hidup dikendalikan keinginan tak terbatas. Alih-alih hidup bahagia, malah bisa jadi hidup sengsara berkepanjangan. Lantas, jika di sekolah, guru berbusa-busa jelaskan teori tentang hidup sederhana tapi dia tak beri keteladanan, itulah pengajar. Sekadar menyampaikan ilmu pengetahuan.

Memang, bersikap sederhana itu pilihan. Proses pembiasaan dan peneladanan akan selalu menjadi kunci sukses dalam mendidik hidup sederhana pada anak-anak kita. Hidup sederhana, mudah diucapkan, namun perlu proses panjang agar bisa terinternalisasi pada diri pribadi serta anak-anak kita. Karena sederhana itu sebuah pilihan, maka didiklah anak-anak kita agar sadar mengapa mereka mesti bersikap sederhana.



Asep Sapa'at

Teacher Trainer di Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa


Redaktur: Miftahul Falah

Agar Anak Lebih 'Pede'

Agar Anak Lebih 'Pede', Coba Kiat Ini
REPUBLIKA.CO.ID, Orangtua mana yang tak senang jika putra-putrinya bisa tampil penuh percaya diri dan tidak pemalu? Nah, berikut ini ada sejumlah kiat agar orangtua mampu ''menolong'' putra-putrinya untuk mengatasi rasa malu tersebut.

1. Jangan paksakan si kecil untuk bertemu orang baru atau mengalami pengalaman baru. Penelitian menunjukkan, orangtua yang bersikap akrab dan tidak memaksa justru lebih berhasil ketimbang mereka yang bersikap kelewat keras.
2. Hindari bersikap over-protective. Menyaksikan si kecil tengah ''berjuang'' menghadapi situasi baru memang menyakitkan. Namun jika ia selalu ''diselamatkan'' maka ia tidak akan belajar bagaimana caranya untuk memperoleh rasa percaya diri.
3. Lakukan secara bertahap. Berilah penghargaan saat si kecil berhasil mencapai kemajuan -- sekecil apapun kemajuan tersebut. Dengan cara ini, ia akan memperoleh rasa percaya diri yang dibutuhkan untuk mengatasi rasa malunya. Ketika ia ketakutan saat menghadapi situasi baru, ingatkanlah kesuksesan yang pernah diraihnya.
4. Bangunlah hubungan persahabatan secara perlahan. Langkah pertama, Anda mungkin bisa mengundang seorang kawan si kecil untuk datang ke rumah Anda. Ada kalanya anak-anak yang pemalu merasa lebih nyaman jika bermain dengan anak-anak yang sedikit lebih muda usianya dibanding dirinya.
5. Bicaralah kepada guru. Langkah ini penting bagi anak-anak yang telah bersekolah. Sebelum acara sekolah dimulai, ceritakanlah perangai si kecil kepada gurunya. Katakan pada sang guru bahwa sikap diam si kecil bukanlah berarti ia kekurangan minat untuk belajar. Pasalnya, guru kadang mengabaikan anak-anak yang pemalu.
6. Dorong si kecil untuk ikut serta dalam kegiatan baru. Anak pemalu biasanya tidak menyukai situasi sosial yang memiliki aktivitas kelompok, seperti olah raga. Namun mendorong mereka terlibat dalam kegiatan tersebut bermanfaat untuk ''memperkenalkan'' dirinya pada anak-anak lain, sekaligus membuatnya merasa percaya diri.
7. Agar si anak lebih nyaman, ikutkan ia dalam aktivitas yang sesuai dengan minatnya. Jika ia suka menggambar, misalnya, dorong ia untuk ikut les melukis.
Namun yang paling penting dari semua itu adalah dukungan Anda sebagai orang yang dipercaya oleh si anak. Ingat, jangan sekali-kali memaksakan kehendak karena bagaimana pun anak-anak adalah manusia yang juga memiliki kepribadian sendiri.
Redaktur: Endah Hapsari
Reporter: Yeyen Rostiyani

Bagaimana Mengatasi Perilaku Buruk Anak Tanpa Kekerasan?

Sumber: Yuk jadi Orangtua Shalih

Ingin anak nurut tanpa harus membentak dan melakukan kekerasan pada mereka? Ingin berhenti menyalahkan diri sebagai orangtua yang tak sabaran dan emosian? Ingin anak-anak terkendali tanpa harus jadi orangtua otoriter? Ingin mengurangi perbuatan buruk anak yang menjengkelkan: suka mukul, kecanduan tv, game, internet, tukang jajan, konsumtif, lelet di pagi hari, malas mandi, malas sikat gigi?

Ikuti Program Disiplin Anak (PDA) terdekat di kota Anda. PDA adalah program Pendidikan Orangtua yang dirancang khusus untuk orangtua yang memiliki anak usia 0-12 tahun atau siapapun yang terlibat dalam pengasuhan anak usia 0-12 tahun. Durasi program 1 hari dengan dari pukul 08.00 – 17.00 Program ini membahas teknik-teknik dasar mengatasi perilaku-perilaku dasar anak yang tidak diharapkan dan mendorong perilaku anak yang diharapkan.

Telah banyak program parenting atau pendidikan keorangtuaan hadir, tapi program ini adalah sebuah program pendidikan orangtua terpadu satu-satunya dan pertama di Indonesia dan Malaysia yang telah disusun dengan modul-modul yang sistematis dan telah teruji di 20 propinsi lebih dari 70 kota di Indonesia dan beberapa negeri di Malaysia. Program pendidikan orangtua ini juga sudah diselenggarakan di beberapa kota di mancanegara seperti Jeddah, Madinah, Nagoya, Osaka, Tokyo.

MENGAPA PENTING?

Karena sebagian besar anak belum sempurna akalnya, hampir semua anak saat merasa dirugikan melakukan salah satu perbuatan berikut: menangis, berteriak, rewel, ngamuk, mendorong, menarik, menjambak, melempar barang, menendang atau bahkan memukul.

Semua anak fitrahnya pada kebaikan, tapi karena anak belum terampil berbuat baik, maka hampir semua anak melakukan ujicoba perilaku dan setelah itu menguji respon orangtua dengan cara: tidak melakukan yang diperintah orangtua atau tidak berhenti dari yang dilarang orangtua.

Saat anak berbuat buruk, sebagian orangtua menghentikkannya dengan pola berulang: MEMBUJUK/MENASIHATI - MEMBENTAK - MEMUKUL. Awalnya orangtua akan MEMBUJUK ATAU MENASIHATI. Jika tidak didengarkan lalu orangtua MEMBENTAK. Dan jika tidak didengarkan juga akhirnya sebagian orangtua melakukan tindakan kekerasan pada anak: MENCUBIT, MENJEWER ATAU BAHKAN MEMUKUL ANAK.

Lalu, sebagian orangtua yang melakukannya memvonis dirinya sebagai ORANGTUA YANG TIDAK SABARAN atau EMOSIAN! Padahal yang sebenarnya terjadi adalah bukan orangtua yang tidak sabaran atau emosian, tapi karena orangtua belum dapat menghentikkan perbuatan buruk anak.

Meski sebagian besar orangtua sejak ‘jaman batu’ juga tahu bahwa membentak, mencubit atau memukul anak adalah perbuatan negatif, karena sebagian orangtua belum mengetahui cara untuk menghentikkan perbuatan buruk anak maka orangtua terus terjebak melakukan kekerasan pada anak? Apakah jika anak berhenti berbuat buruk, orangtua masih melakukan tindakan negatif tersebut?

APA YANG DIPELAJARI?

Program PDA adalah program yang sangat aplikatif, mudah diterapkan, tidak bertele-tele dan tidak memerlukan pemahaman yang ribet untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di Program Pelatihan Orangtua PDA, orangtua diajak untuk mencari solusi praktis atas perilu buruk anak:

- Anak Lelet di pagi hari- Sering telat bangun dan telat sekolah- Tidak patuh, susah diberitahu, membantah, membangkang orangtua- Konsumtif, tukang jajan - Kecanduan nontol televisi, internet, game, playstation- Anak sering mengejek, berkata kotor- Suka berantem dengan menyakiti- Anak suka mukul, menggigit, mendorong, mencubit- Susah mandi, makan, sikat gigi - Susah diajak melakukan rutinitas harian- Selalu ingin dituruti keinginannya- Anak gampang rewel dan tukang ngamuk

PULANG LANGSUNG PRAKTIK! BUKTIKKAN!TANPA RIBET, TAK BERTELE-TELE, APLIKATIF.Untuk melihat jadwal terbaru dan terdekat di kota Anda silahkan klik pada menu SCHEDULLE di bagian atas

APA KATA MEREKA?

Tidak hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga motivasi dan contoh aplikatif untuk masalah orangtua-anak (Mehra Erfiza, Osaka, Jepang)

Sangat nyata & konkret sesuai kehidupan kita. (Lulut R., Osaka, Jepang)

Menggugah, bermanfaat, contoh-contoh konkrit dan atraksi Abah Ihsan yang nyata sekali (Akhmadu, Osaka, Jepang)

Luar biasa! Ternyata tak perlu bersuara keras-keras untuk mendisiplinkan Anak (Dian Fitriana, Jayapura, Papua)

Tidak hanya teori-teori tetapi diikuti dengan contoh-contoh yang sering terjadi pada diri anak! Cara penyampaian begitu interaktif dan tidak membosankan. (Indri Kusuma Dewi, Jakarta)

Alhamdulillah ada poin-poin yang saya terapkan memang benar BERHASIL saya lebih bisa lagi mengendalikan & menguasai anak saya & anak didik saya. (Risdiar, Cilegon, Banten)

Bagus, ternyata penerapan disiplin tidak selalu berakhir dengan sesuatu yg menegangkan. Anak-anak merasa nyaman, orangtuanya lebih tenang. (Hizatul Tri Yanti, Tenggarong, Kalimantan Timur)

Mudah diaplikasikan dalam kehidupan serta sesuai dengan real. Disini kami dapat ilmu itu. (Sri R, Palembang, Sumatera Selatan)

Saya jadi tahu apa yang harus dikerjakan selain berteriak, memukul, atau membentak anak. (Zuraeda Isnaeni, Jakarta)

Menarik, bagus banget. kalau semua orang tahu bagaimana mengatasi anak yang tidak disiplin, mungkin tidak akan ada anak-anak yang terdzolimi (Siti Wiarsih, Jakarta)

Bahagia...., Full inspirasi bagi orangtua untuk mendidik anak dengan cara yang tidak memerlukan kekerasan, bentakkan dll. (Nianiza Trisna, Sigli)

Sangat menarik, karena masalah yang dikupas semuanya pernah saya alami, dan hampir membuat saya putus asa. (Maulidar, Sigli)

ATAU SIMAK CERITA MENGHARUKAN LAINNYA DI SINI:
www.auladi.org and klik IMPRESSION

Melatih Anak Mau Berbagi

REPUBLIKA.CO.ID, Menumbuhkan rasa berbagi pada anak hendaknya dilakukan sejak awal. Tapi hendaknya itu tidak hanya dilakukan sebatas ucapan. Orang tua pun harus ikut memberikan contoh bagaimana seharusnya anak bertindak. Dan, yang tak kalah penting, jangan lupa untuk memuji ketika mereka bertindak baik. Biar masih kanak-kanak, pujian bisa bermakna banyak bagi cara pandangnya.
Berikut adalah tips dari beberapa sumber yang bisa dijadikan panduan untuk meningkatkan rasa berbagi pada anak:
* Doronglah anak untuk berbagi dengan Anda. Ini akan lebih mudah karena dia tahu bahwa Anda tidak akan merebut miliknya atau membuatnya marah. Pastikan juga padanya bahwa Anda akan mengembalikan -katakanlah, mainan yang ia pinjamkan.
* Cobalah mengunjungi taman bermain. Taman merupakan tempat terbaik bagi anak untuk belajar berbagi. Ini karena semua permainan yang tersedia bukan miliknya. Dengan demikian anak akan belajar bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan giliran, apakah itu bermain perosotan atau ayunan.
* Jangan memaksa anak untuk berbagi semua yang ia miliki. Sebelum ia bermain dengan kawannya, biarkan anak memilih mainan atau benda apa yang boleh dimainkan bersama. Dengan demikian anak akan sadar, berbagi tidak berlaku untuk segala hal. Ini memudahkannya untuk memahami bahwa ada hal-hal yang harus dibagi dan ada juga yang tidak perlu.
* Anak-anak biasanya menginginkan mainan yang tidak ia miliki. Ketika ia mulai merengek, carilah cara agar ia tetap bisa memainkannya. Kalau anak lain memiliki mobil-mobilan dan anak Anda memiliki mainan kereta api, ajaklah mereka bermain bersama. Dengan demikian, anak Anda bisa ikut bermain mobil-mobilan dan anak yang lain bisa mencoba mainan kereta api.
* Anda juga bisa memakai patokan tertentu untuk membujuk anak agar berbagi. Misalnya dengan mengatakan, ''Indah main boneka selama lima menit, lalu setelah itu Kiki main selama lima menit.'' Sebenarnya anak usia pra-sekolah belum memahami waktu. Tapi bujukan seperti ini biasanya ampuh untuk meyakinkan mereka bahwa miliknya pasti kembali. Dan yang terjadi, mereka bisa bermain bersama hingga lupa waktu.
* Ketika anak tengah menunggu giliran untuk bermain dengan sesuatu, ajak ia melakukan aktivitas lain. Bisa bermain dengan boneka berbeda, mewarnai buku atau memberi makan binatang jika ada.
* Ajarkan cara untuk berunding. Ketika terjadi keributan kecil di antara anak-anak, jangan pernah meneriaki mereka atau melempar barang yang diperebutkan. Sebagai gantinya, ajak anak-anak untuk duduk bersama dan bicara secara baik-baik bahwa mereka harus bergiliran.
* Jangan sungkan untuk memuji. Anda mengharapkan anak-anak memiliki rasa berbagi yang tinggi. Nah, ketika melakukan itu, jangan sungkan untuk memujinya. Semisal, ''Kakak hebat ya, tadi Bunda lihat kakak meminjamkan bonekanya buat adik Kiki.'' Pujian akan lebih mengena. Anak menjadi paham bahwa yang dilakukannya adalah perbuatan baik.

Redaktur: Endah Hapsari
Reporter: Nina Chairani

Mengapa Anak Tak Mau Curhat Pada Orangtua?

Image from: republika.co.id
Sumber: yuk jadi orangtua shalih
Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Fasilitator Pendidikan Orangtua di 20 Propinsi, 70 kota di Indonesia
Direktur Auladi Parenting School
www.auladi.org

Membuat anak curhat itu tidak sesulit seperti Anda berbicara yang harus menyesuaikan tata bahasa logis atau tidak logis atau harus menyesuaikan kalimat-kalimat. Anda hanya harus diam dan bersabar untuk tidak buru-buru menceramahinya saat anak-anak mengeluarkan perasaan dan pikirannya. Sesekali Anda juga memancing mereka dengan pertanyaan-pertanyaan.

Curhat, bahasa gaul dari mencurahkan perasaan, adalah sarana sederhana, tapi dampak positifnya sungguh tak sesederhana itu. Saat seseorang curhat, maka seseorang juga dapat ‘membersihkan’ perasaan-perasaan negatifnya dengan melalui mulut. Anda pernah curhat bukan? Pernahkah Anda merasakan perasaan “plong” saat Anda curhat pada teman? Padahal, teman Anda hanya diam saja dan khusyuk mendengarkan, padahal sebagian teman Anda yang mendengarkan curhat Anda bahkan tidak memberi solusi apapun. Tapi, Anda tetap saja merasakan perasaan nyaman.

Curhat itu seperti pisau, jika dimanfaatkan dengan baik oleh orang yang tepat dan disalurkan dengan orang yang tepat maka ia menjadi sarana lebih baik untuk melapangkan perasaan lebih positif. Tetapi, sebagaimana pisau, jika tidak digunakan dengan baik dan disalurkan pada orang yang tidak tepat, justru dapat berakibat negatif.

Mungkin Anda pernah ingat kejadian seorang gadis yang disangka ‘diculik’ oleh seorang lelaki yang dikenalnya lewat facebook? Apa lacur, ternyata gadis ini setelah dikembalikan orangtuanya malah menangis karena harus berpisah dengan lelaki yang sering jadi tempat curhatnya ini. Remaja ini ternyata merasa nyaman untuk mengungkapkan keluh kesah, perasaan-perasaannya, mencurahkan pikiran-pikiran dan apa yang menjadi gejolak hatinya pada lelaki teman facebooknya. Pertanyaannya, mengapa anak gadis ini tidak melakukannya pada orangtuanya?!

Ayah Ibu, seharusnya kitalah yang menjadi tempat paling nyaman anak kita untuk curhat! Bukan orang lain! Bagaimana bisa seorang anak tak mau bercerita pada orangtuanya tetapi mau bercerita dan bicara pada orang lain? Pasti ada yang salah dengan kita bukan?

Periksalah barangkali selama ini kita yang ‘mendominasi’ perkataan-perkataan di rumah. Seorang ibu peserta kursus orangutan yang saya selenggarakan pernah berkata bahwa ia setiap hari meluangkan waktu untuk bicara kepada anak, tetapi meski ia sering bicara, mengapa anak ini semakin lama semakin sering menghindar dan sering berkata “sudahlah ma aku mau istirahat?”

Saya lalu balik bertanya kepada ibu ini, coba periksa siapakah yang selama ini berbicara? Orangtua atau anak? Dan ia jujur mengakui bahwa yang banyak bicara selama ini adalah dirinya, bukan anaknya. Pantas saja ibu ini merasa dekat dengan anak, tapi anaknya tak merasa dekat dengan ibunya. Dekat secara emosional maksudnya, ketika seseorang curhat pada anak secara alamiah orang ini akan merasa dekat dengan Anda dan hey periksa, apakah Anda selama ini sering curhat sama orang tertentu? Bukankah jadi merasa lebih dekat dengan orang tersebut?

Ada juga orangtua yang berkata pada saya bahwa ia sudah benar-benar mau mengajak anak bicara, tapi tetap saja anaknya tak mau bicara. Bungkam! Tak mau terbuka dengan orangtua.

Hey, ayah bunda, coba periksa kapankah kita ngajak anak kita bicara? Silahkan jawab pertanyaan saya berikut ini:

- Lebih sering mana Anda ngajak bicara anak: pada saat bermasalah atau pada saat tidak bermasalah?
- Lebih sering mana Anda ngajak bicara anak: pada hal yang serius atau juga pada hal yang sepele?
- Lebih sering duluan mana Anda lakukan: menasihati anak saat dia bermasalah atau membuat anak membiarkan menceritakan masalahnya, kekecewaannya, kesedihannya?

Jika jawaban Anda lebih banyak yang bagian pertama dari pada yang bagian kedua, aduh.. jangan harap deh anak Anda mau curhat pada Anak. Jika Anda lebih sering mengajak anak bicara pada saat bermasalah daripada tidak bermasalah, ya jelaslah anak tidak akan nyaman bicara!

Pada saat anak bermasalah, otaknya membeku, tegang! Jangankan nasihat, lah kalau lagi tegang, kita dapat merasakannya sendiri, makanan aja susah masuk, apatah lagi nasihat!

Coba periksa siapa yang jadi nyaman makan saat Anda dengan pasangan berantem? Coba periksa siapa yang jadi nyaman makan saat mendengar orangtua kita meninggal dunia? Rasanya tidak nyaman kan? Sekali lagi, jangankan terbuka bicara, perutnya pun tak bisa terbuka menerima makanan

Sebagian orangtua mengajak anak bicara lebih sering pada saat bermasalah, akibatnya ya begitu, anak susah bicara. Akhirnya orangtua nyerah dan kemudian keluarlah kalimat pamungkas “Kenapa diam? Maunya kamu apa! Ayo bicara!”.

Pernah mendengar kalimat semacam itu? Jangan pernah berkata sikap dengan kalimat ini dapat membuat anak curhat. Yang sebenarnya terjadi dengan kalimat ini adalah tanda-tanda orangtua sudah kebingungan “tidak tahu harus ‘diapain’ lagi anaknya.”

Ayah Ibu, jangan pernah ya berharap anak kita akan terbuka sama kita, mau nyaman bicara dengan kita, jika kita hanya mengajak anak bicara saat nilai raport mereka jelek, pada saat mereka dilaporkan gurunya sekolah, pada saat anak Anda pulang terlalu larut, pada saat anak Anda ketahuan lebam-lebam, pada saat Anda mendapat aduan dari tetangga.

Apakah pada saat kejadian-kejadian ini berarti harus kita biarkan, kita abaikan dan sama sekali tidak boleh mengajak anak bicara? Tentu saja tidak. Maksud saya adalah, jika kita hanya mengajak bicara lebih banyak pada saat kejadian-kejadian “bermasalah” ini maka akibatnya seperti yang sudah dibahas: anak tegang, otak membeku, maka menjadi tidak nyamanlah suasana komunikasi.

Dalam perspektif yang mirip, pernahkah Anda mendengar orangtua berkata “harus berapa kali papa nasihatin! Kamu dengar nggak sih?”

Mengapa sebagian nasihat tidak masuk? Seolah masuk telinga kanan keluar telinga kanan, alias mental! (Kalau masuk telingan kanan keluar telinga kiri, mendingan tuh!). Ini akibat tadi, anak tak nyaman mengungkapkan dan mengeluarkan apa yang dirasakan atau yang dipikirkannya. Komunikasi di rumah cenderung satu arah.

Diibaratkan sebuah gelas yang sudah terisi penuh air, apa yang akan terjadi jika Anda isi dengan air lagi? Tumpah kan? Banyak nasihat tak masuk “gelas” alias pikiran anak gara-gara yang Anda di gelas ini tidak dikeluarkan dulu. Akibat “overdosis” nasihat, maka banyak nasihat menjadi sia-sia! Sudah cape bicara panjang kali lebar kali tinggi, eh nggak masuk pula! Siapa yang rugi akhirnya? Kita sendiri sebagia orangtua kan?

Karena itu, agar curhat dapat bermanfaat positif, mari kelola sarana ini dengan lebih baik. Bukan hanya untuk anak kita, tapi juga kita sendirinya. Mengapa tidak sarana ini kita manfaatkan untuk mengelola emosi anak-anak kita.

Yuk kita lakukan PR sederhana ini di rumah dan katakana pada diri kita “Insya Allah, mulai hari ini saya bisa jadi tempat curhat terbaik untuk anak saya dengan cara:

- Akan banyak mengajak anak bicara pada saat tidak bermasalah, sebelum bermasalah
- Akan banyak mengajak anak bicara pada hal yang disukai anak, bukan hanya yang disukai saya, orangtuanya
- Akan mendengarkan apa yang dirasakan dan dipikirkan anak lebih dulu, sebelum memberi nasihat-nasihat!
 

 

Mendisiplinkan Anak

Susah-susah gampang ya menjadi orang tua itu, karena waktu pertama kali kita diberi amanah oleh Allah, tidak disertai dengan user manualnya, jadi kita harus belajar sepanjang waktu untuk mencobanya, kadang benar kadang error ya begitulah namanya mendidik anak untuk terus disiplin, adakalanya aku merasa cara itu paling benar tapi tetap saja ada salahnya.

Alhamdulillahnya teknologi sekarang sudah canggih jadi mau cari informasi apapun telah tersedia dengan mudahnya, tinggal kita bisa memilahnya.

Begitupun dengan aku, semenjak Zidan sudah tau gadget, setiap hari pasti aja minta dibukain laptop atau nonton, sebelumnya sih tidak ada masalah karena banyak membantu vocabularynya Zidan in English secara ibunya juga gak fasih.

Tapi tambah ke sini aku sendiri yang parno setiap dia minta nonton ato buka laptop, hari kemarin ampe sore aku berhasil mengalihkan perhatiannya pada TV dan laptop, tapi tidak berhasil ketika ada ayahnya yang datang dari kampus, langsung minta HPnya untuk nonton TUTITU kesukaannya.

Susahnya mendisiplinkan itu baik buat anak maupun kita sebagai orang tua, meskipun setiap hari aku selalu mencoba hal baru buat anak-anakku untuk perubahan ke arah kebaikan, mudah-mudahan ada hasilnya meskipun lama.

Rabu, 02 Januari 2013

Menunggu Pergantian Hari


Liat di FB, sudah banyak teman dan kerabat yang ngucapin Ultah waktu Indonesia, sedang aku sendiri tidak merasa ada yang berubah menunggu pergantian hari ke tanggal 3 tersebut, ya sama seperti hari-hari sebelumnya. Trimakasih teman-teman atas do'anya, mudah-mudahan Allah membalasnya, Aamiin

Cuman kalo boleh make a wish, mudah-mudahan di umur yang semakin berkurang ini, aku bisa memberikan banyak kontribusi buat sesama, kedengarannya klise ya, tapi ya itulah kehidupan kadang kita ada di bawah, kadang melambung di angkasa hehe...,

Ya Allah disisa umurku yang semakin berkurang ini mudah-mudahan aku diberi kesehatan, menjadi
istri yang baik di mata suami, menjadi ibu yang lebih sabar buat anak-anak, menjadi anak yang berbakti buat orang tuaku, menjadi teman yang baik buat yang kenal denganku, dan selalu istiqomah di jalanMu

Terima kasih Ya Allah, Engkau telah banyak memberikan anugrahnya kepadaku tapi kadang aku masih suka lalai terhadapMu........................

Nikmat manalagi yang kau dustakan........

Maafkan ya Allah hamba banyak lalainya disetiap sepertiga malamMu.
Ya Allah bimbing  hamba dan keluarga hamba untuk selalu bisa mensyukuri atas nikmatMu, Aamiin