-->

Selasa, 28 Februari 2017

Tantangan Kemandirian Anak #7



Kalo pagi-pagi mood anak-anak sudah jelek kadang suka jadi seharian bad moodnya, entah ada angin apa anak-anak hari ini memberi rasa tidak mengenakan. Ada aja warna yang tidak sesuai dengan hati. Disabar-sabarin hati supaya gak meluap emosi keluar. Ya anak gak enak kalo sakit wajarlah kaya ibu waktu kecil dulu, persis kaya Gibran hehehe.

Gibran yang sering membuat keadaan tidak bersahabat, ada aja masalah kecil yang dibesar-besarnya.

Alhamdulillah Ihsan sudah bisa diajak kerjasama, termasuk untuk urusan poto.

Senin, 27 Februari 2017

Tantangan Melatih Kemandirian #6





Badan Zidan dan Gibran masih panas dan keliatan lemes, Gibran masih aja rewel kalo merasa kesakitan.

Belakang pipinya yang kemarin bengkak ternyata tadi setelah dicek menjadi sariawan yang lumayan cukup besar, itu sebabnya dia malas buat makan.

Meski lemes badannya,  Zidan tetap semangat sekolah, pulang sekolah juga masih semangat crafting bikin origami dan topi samurai buat ihsan. Cuman ya itu jahilnya masih tetep saja harus diingatkan.

Nafsu makannya berkurang dan hampir gak makan nasi sampe waktunya tidur siang karena kecapean crafting dan kelelahan juga.

Bangun tidur sore anak-anak minta makan saking lapernya nambah sampai 2x.

Tapi yang berhasil menyelesaikan tantangan adalah ihsan, kakak-kakaknya cuman dapat bonus pengecualian saja.

Minggu, 26 Februari 2017

Tantangan Melatih Kemandirian anak #5



Hari ini tantangan tidak sempat terabadikan karena ibu ikut kajian sedangkan sarapan tadi ibu juga gak sempet abadikan mereka karena terburu-buru, nah hanis nganterin ibu ngaji anak-anak di rumah dengan ayahnya, ayah tidak tau kalo tantangan ini harus diabadikan, dikiranya hanya tantangan seperti biasanya yang sering ibu lakukan ke anak-anak.

Dan ternyata mereka makanannya beli jadi, ayam goreng kriuk, alhasil zidan gak sempet cuci-cuci piring dan langsung buang-buang saja setelah makannya.

Ibu pulang bada asar anak-anak msh tidur siang

Sabtu, 25 Februari 2017

Tantangan Melatih Kemandirian Anak #4



Hari ini anak-anak semuanya sakit berbarengan, awalnya empat hari yang lalu Ihsan yang batuk pilek dua hari kemari gibran, dan pagi ini giliran Zidan yang demam.

Zidan kalo demam paling ketahuan siang ato selama seharian bisa tidur, meski dapat keringanan selama sakit diperbolehkan tidak mengerjakan tugas hariannya, Zidan tetap melakukan tugas hariannya dengan sempurna.

Lain halnya Gibran, sakit sedikit aja serba dirasakan hampir-hampir menangis kalo merasa diri sakit. Harus terus diingatkan untuk menahan diri dari rasa cengengnya.

Masya Allah, Ihsan meski masih mau selera makannya masih sama aja seperti waktu sehat, makan saja gak peduli batuk juga.

Hari ini anak-anak banyak makannya bubur sama serealia,  yang makan nasi padat hanya Gibran saja itu juga sedikit banget porsinya.

Secara keseluruhan anak-anak bisa melalui tantangan dengan baik menurut versi ibu, dan ibu kasih apresiasi pada mereka dengan perolehan bintang

Cepet sembuh ya anak-anak kebanggaan ibu.



Jumat, 24 Februari 2017

Tantangan Melatih Kemandirian Anak #3




Tantangan hari ini sedikit ada pengecualian buat Gibran karena sakit jadi performanya hari ini dianggap sebagai bonus. pagi tadi mengaduh karena pusing sesuai kesepakaan diawal boleh menangis dalam kondis tertentu saja.


Zidan masih on track menyelesaikan tantanganannya, cuman sedikit jahilnya yang masih harus diingatkan   terus dan terus, belum sampai 5000x kalo kata Sarra Risman ๐Ÿ˜ƒ

Ihsan bias menyelesaikan tantangan dengan baik.







Kamis, 23 Februari 2017

Tantangan Melatih Kemandirian Anak #2





Hari ini anak-anak Alhamdulillah mengerjakan tantangan sesuai kesepakatan meskipun kegiaan hari ini padat kunjungan ke berbagai tempat, mudah-mudfahan besok-besok anak-anak tetap manis, Aamiin.

Rabu, 22 Februari 2017

Tantangan Melatih Kemandirian Anak #1


Kemarin kita berdiskusi mengenai tantangan yang ibu usulkan kepada anak-anak yang akan mereka kerjakan selama 10 hari ke depan dari mulai bangun tidur sampai pukul 18.00 WIB, tujuannya supaya menjadi kebiasaan dan pola yang terbenuk dengan sendirinya tanpa disuruhpun.

Awalnya banyak yang nawar pengen yang gampang tantangannya, api akhirnya mereka sepaka setelah ibu jelaskam tujuannya.


Tantangan Zidan (6th 2 bln)
1. Tidak jahil pada adik-adiknya
2. Setelah makan cuci piring




Tantangan Gibran (4th 5 bln)
Tidak menangis bila merasa kesulitan


Tantangan Ihsan (2th 9bln)
Habis makan, piring simpan di sinx.

Sebenernya tantangan Zidan baginya kecil karena sudah dilatih sudah lama, cuman ibu mau membiasakan menjelang 7th, hal terbera baginya adalah jahil sama adik-adiknya buat isengin apasaja sampai mereka nangis, demi tantangan Zidan bersabar menunggu sampai jam 18.00.

Menjelang tidur keisengan dimulai, setelah ditanya ternyata menjawab pada perkataan saya jam 18.00, lebih dari itu tidak berlaku, Masya Allah cerdas juga anak ibu......


Akhirnya ibu ambil sikap dan merala peraturan dari mulai bangun tidur sampai mau tidur kembali.


Tantangan yang terberat adalah Gibran, dia harus bisa menahan emosinya dari nangis dalam hantaman apapun, baik sengaja ao idak sengaja baik dari diri sendiri aaupun dari keisengan kakaknya. Dia berhasil melewati semuanya.


Tantangan Ihsan sangat mudah menyimpan bekas makan dan minumnya ke dalam sinx, hal itu sudah menjadi kebiasaannya cuman kadang sampai hanya di meja makan saja.


Alhamdulillah hari perama anak-anak bisa melalui tantangan dengan mulus, berharap besok hari ke dua bisa melaksanakannya dengan baik juga.


  







   














Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak

Fasil : Siti Mashunah
Ketua kelas : Nani Nurhasanah
Koordinator bulan Februari : Yunita Dury
Hari/tgl : Rabu, 22 Februari 2017

Materi 2 : Melatih Kemandirian Anak

Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak


Membangun dan mendidik kemandirian anak bukanlah pekerjaan yang mudah, terutama melatih anak mandiri ketika masih di usia dini. Secara alamiah anak sebenarnya cenderung untuk belajar memiliki kemandirian "Yes, I can!" Kata-kata ajaib ini merupakan sinyal dari kesadaran seorang anak terhadap diri dan kemampuannya sendiri untuk menentukan dirinya.

Orang tua yang bijaksana memanfaatkan keinginan akan kemandirian ini dengan membiarkan anak-anak mereka mempraktikkan keterampilan mereka yang baru muncul sesering mungkin pada lingkungan yang aman atau ramah anak. Dukungan orang tua yang seperti ini memang sangat dibutuhkan anak agar dapat melakukan berbagai hal secara mandiri, termasuk aktivitas yang masih relatif sulit.

Namun realita yang ada, orang tua terkadang merasa tidak tega, tidak bersabar, khawatir yang lahir karena bentuk rasa sayang yang berlebihan kepada anak.  Inilah salah satu penyebab dari kegagalan anak dalam proses kemandiriannya. Oleh karena itu, orang tua perlu memperbaiki sikap mental agar tidak mudah khawatir dengan anak.

Faktor lingkungan juga terkadang ikut andil dalam kegagalan proses kemandirian anak. Dorongan negatif dari lingkungan sekitar yang terkadang menganggap apa yang orang tua lakukan untuk melatih kemandirian anaknya sebagai bentuk eksploitasi. Padahal yang paling terpenting dan utama dalam membangun dan mendidik kemandirian anak adalah ketika anak merasa senang dalam melakukan aktivitas kemandiriannya tanpa ada rasa takut ataupun karena ada rasa tekanan dari luar.

Perlu diketahui bahwa kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa. Jika pengertian mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan perkembangan usianya.

Adapun jenis kemandirian anak yang perlu dibangun adalah sebagai berikut:

*1. Kemandirian dalam Keterampilan Hidup*

Prinsip pokok menumbuhkan kemandirian dalam keterampilan hidup adalah memberi kesempatan, bukan melatih. Anak secara alamiah memang cenderung berusaha belajar melakukan berbagai keterampilan hidup sehari-hari secara mandiri, semisal makan, mengenakan baju sendiri, mandiri sendiri, dsb.

Jika kita mengizinkan anak melakukan berbagai aktivitas hidup sehari-hari tersebut secara mandiri, lambat laun akan terampil. Yang kita perlukan hanyalah kesediaan mendampingi sehingga anak tidak melakukan terlalu banyak kesalahan, meskipun kita tetap harus menyadari bahwa untuk mencapai keterampilan perlu latihan yang banyak dengan berbagai kesalahannya.

Kemandirian itu akan lebih meningkat kualitasnya jika orangtua secara sengaja memberi rangsangan kepada anak berupa tantangan untuk mengerjakan yang lebih rumit dan sulit. Ini bukan saja melatih kemandirian dalam urusan keterampilan hidup sehari-hari, melainkan juga menumbuhkan kemandirian secara emosional.

*2. Kemandirian Psikososial*

Bertengkar itu tidak baik. Tetapi menghentikan pertengkaran begitu saja, menjadikan anak kehilangan kesempatan untuk belajar menyelesaikan konflik. Kita memang harus menengahi dan adakalanya menghentikan. Tetapi kita juga harus membantu anak menggali masalahnya, merunut sebabnya dan menawarkan jalan keluar kepada anak, baik dengan menunjukkan berbagai alternatif tindakan yang dapat diambil maupun menanyakan kepada anak tentang apa saja yang lebih baik untuk dilakukan.

Apa yang terjadi jika kita bertindak keras terhadap berbagai konflik yang terjadi antar anak? Banyak hal,  salah satunya anak tidak berani mengambil sikap yang berbeda dengan teman-temannya, meskipun dia tahu bahwa sikap itulah yang seharusnya dia ambil. Padahal kita seharusnya menanamkan pada diri anak sikap untuk mendahulukan prinsip daripada harmoni. Rukun itu penting, tapi hidup dengan berpegang pada prinsip yang benar itu jauh lebih penting. Kita tanamkan kepada mereka _principles over harmony_ , melakukan hal-hal yang benar semata-mata karena prinsip. Bukan karena ada orang lain yang memaksa anak melakukannya.

Lalu apakah yang harus kita lakukan jika anak sedang bertengkar? Apakah kita biarkan mereka? Tidak. Kita tidak boleh membiarkan. Kita harus menangani. Membiarkan anak bertengkar dengan keyakinan mereka akan mampu menyelesaikan sendiri dapat memicu terjadi situasi submisif, yakni siapa kuat dia yang menang. Dan inilah yang sedang terjadi di negeri kita. Bahkan urusan antre pun, siapa yang kuat dia yang duluan. Dampaknya akan sangat luas dan bisa menakutkan.

Kita juga dapat melatih kemandirian psikososial anak secara lebih luas. Melatih _toilet trainee_ beserta adab-adabnya. Melatihnya bagaimana adab ketika bertamu atau menerima tamu, adab berbicara kepada yang lebih tua atau yang lebih muda, dan lain sebagainya.

*3. Kemandirian Belajar*

Inilah proses serius kita hari ini. Banyak sekolah yang bersibuk mengajari anak agar terampil membaca, menulis semenjak usia dini, tapi lupa bahwa yang paling mendasar adalah sikap positif, kemauan yang kuat, dorongan dan kebanggaan akan kegiatan tersebut.

Jika anak memiliki kemauan yang kuat untuk belajar disertai keyakinan (bukan hanya paham) bahwa belajar itu penting, maka kita dapat berharap anak akan cenderung menjadi pembelajar mandiri saat mereka memasuki usia 10 tahun. Sebaliknya jika kita hanya mengajari mereka berbagai kecakapan belajar semisal membaca, menulis, dan berhitung di usia dini, mungkin awalnya mereka menggebu-gebu untuk mempelajari semua itu, namun di usia 10 tahun justru menjadi titik balik berupa kejenuhan serta keengganan belajar.

*4. Kemandirian Emosional*

Bekal pokok dari kemandirian emosional adalah pengenalan diri yang diikuti dengan penerimaan diri, kemudian pengendalian diri. Ini memerlukan peran orangtua dalam mengajak anak untuk mengenali kelebihan-kelebihan, kekurangan, kemampuan dan kelemahannya sendiri. Pada saat yang sama orangtua menunjukkan penerimaan terhadap kekurangan maupun kelemahan anak, tetapi bukan berarti membiarkan anak melemahkan dirinya sendiri. Malas dan enggan mengatasi masalah merupakan bentuk sikap melemahkan diri sendiri. Orangtua perlu menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Maka tak patut merendahkan orang lain, tak pantas pula meninggikan diri. Lebih-lebih untuk sesuatu yang diperoleh tanpa melakukan usaha apa pun alias sepenuhnya merupakan pemberian semenjak lahir.

Yang juga penting untuk dilakukan adalah mendampingi anak mengenali kebutuhannya. Balita pun tak perlu rewel jika ia telah dapat mengenali kebutuhannya untuk istirahat. Perlu juga mendampingi mereka untuk belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan perlu dipenuhi, meski tak serta-merta. Sedangkan keinginan, adakalanya dapat dituruti, tetapi tetap perlu belajar menahan diri. Semua ini ditumbuhkan bersamaan dengan menguatkan dorongan sekaligus kemampuan bertanggung-jawab, termasuk berkait dengan konsekuensi atas berbagai tindakan mereka.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

๐Ÿ“šSumber bacaan :

Muhammad Fauzil Adhim, Anak Perlu Belajar Mandiri, Majalah Hidayatullah edisi November 2014.

Ciri Anak Mandiri dan Tahapan Perkembangan Kemandirian, www.AlMaghribiCendekia.com, 2015

William Sears, M.D., Anak Cerdas: Peranan Orang Tua dalam Mewujudkannya, Emerald Publishing, Jakarta 2004

Materi Bunda Sayang Sesi #2_

Institut Ibu Profesional
Fasil : Siti Mashunah
Ketua kelas : Nani Nurhasanah
Koordinator bulan Februari : Yunita Dury
Hari/tgl : Senin, 20 Februari 2017


MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

_Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?_

Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningkatkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.

Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur, sehingga untuk melatih enterpreneur sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.

Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.

_Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?_

Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.

Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita masih selalu menolong anak-anak di usia 1 th ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengkerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.

_Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?_

☘Usia 1-3 tahun
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh :
✅Toilet Training
✅Makan sendiri
✅Berbicara jika memerlukan sesuatu

๐Ÿ”‘Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak-anak di usia 1-3 th  adalah sbb :
๐Ÿ‘จ‍๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿ‘ฆ‍๐Ÿ‘ฆ Membersamai anak-anak dalam proses latihan kemandirian, tidak membiarkannya berlatih sendiri.
๐Ÿ‘จ‍๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿ‘ฆ‍๐Ÿ‘ฆ Mau repot di 6 bulan pertama. Bersabar, karena biasanya 6 bulan pertama ini orangtua mengalami tantangan yang luar biasa.
๐Ÿ‘จ‍๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿ‘ฆ‍๐Ÿ‘ฆKomitmen dan konsisten dengan aturan

Contoh:
Aturan berbicara :
Di rumah ini hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya.

Maka jangan pernah loloskan keinginan anak apabila mereka minta sesuatu dengan menangis dan teriak-teriak.

Aturan bermain:
Di rumah ini boleh bermain apa saja, dengan syarat kembalikan mainan yang sudah tidak dipakai, baru ambil mainan yang lain.

Maka tempatkanlah mainan-mainan dalam tempat yang mudah di ambil anak, klasifikasikan sesuai kelompoknya. Kemudian ajarilah anak-anak, ambil mainan di tempat A, mainkan, kembalikan ke tempatnya, baru ambil mainan di tempat B. Latih terus menerus dan bermainlah bersama anak-anak, jadilah anak-anak yang menjalankan aturan tersebut, jangan berperan menjadi orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya.

☘Anak usia 3-5 th
Anak-anak di usia ini sedang menunjukkan inisiatif besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya
Contoh :
✅ Anak-anak lebih suka mencontoh perilaku orang dewasa.
✅Ingin melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya

๐Ÿ”‘Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia 3-5 th adalah sbb :
๐Ÿ‘จ‍๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿ‘ฆ‍๐Ÿ‘ฆ Hargai keinginan anak-anak
๐Ÿ‘จ‍๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿ‘ฆ‍๐Ÿ‘ฆ Jangan buru-buru memberikan pertolongan
๐Ÿ‘จ‍๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿ‘ฆ‍๐Ÿ‘ฆ Terima ketidaksempurnaan
๐Ÿ‘จ‍๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿ‘ฆ‍๐Ÿ‘ฆ Hargai proses, jangan permasalahkan hasil
๐Ÿ‘จ‍๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿ‘ฆ‍๐Ÿ‘ฆ Berbagi peran bersama anak
๐Ÿ‘จ‍๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿ‘ฆ‍๐Ÿ‘ฆ Lakukan dengan proses bermain bersama anak

Contoh :
✅Apabila kita setrika baju besar, berikanlah baju kecil-kecil ke anak.
✅Apabila anda memasak, ajarkanlah ke anak-anak masakan sederhana, sehingga ia sdh bisa menyediakan sarapan untuk dirinya sendiri secara bertahap.
✅Berikanlah peran dalam menyelesaikan kegiatannya, misal manager toilet, jendral sampah dll. Dan jangan pernah ditarget apapun, dan jangan diberikan sebagai tugas dari orangtua. Mereka senang mengerjakan pekerjaannya saja itu sudah sesuatu yang luar biasa.

☘Anak-anak usia sekolah
Apabila dari usia 1 tahun kita sudah menstimulus kemandirian anak, mka saat anak-anak memasuki usia sekolah, dia akan menjadi pembelajar mandiri. Sudah muncul internal motivation dari dalam dirinya tentang apa saja yang dia perlukan untuk dipelajari dalam kehidupan ini.

⛔Kesalahan fatal orangtua di usia ini adalah terlalu fokus di tugas-tugas sekolah anak, seperti PR sekolah,les pelajaran dll. Sehingga kemandirian anak justru kadang mengalami penurunan dibandingkan usia sebelumnya.

๐Ÿ”‘Kunci orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia sekolah
๐Ÿ‘จ‍๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿ‘ฆ‍๐Ÿ‘ฆJangan mudah iba dengan beban sekolah anak-anak sehingga semua tugas kemandirian justru dikerjakan oleh orangtuanya
๐Ÿ‘จ‍๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿ‘ฆ‍๐Ÿ‘ฆIjinkan anak menentukan tujuannya sendiri
๐Ÿ‘จ‍๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿ‘ฆ‍๐Ÿ‘ฆPercayakan manajemen waktu yang sudah dibuat oleh anak-anak.
๐Ÿ‘จ‍๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿ‘ฆ‍๐Ÿ‘ฆKenalkan kesepakatan, konsekuensi dan resiko

Contoh :
✅Perbanyak membuat permainan yang dibuatnya sendiri ( DIY = Do It Yourself)
✅Dibuatkan kamar sendiri, karena anak-anak yang mahir mengelola kamar tidurnya, akan menjadi pijakan awal kesuksesan ia dalam mengelola rumahnya kelak ketika dewasa.

☘Ketrampilan-ketrampilan dasar yang harus dilatihkan untuk anak-anak usia sekolah ini adalah sbb:
1⃣Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
2⃣Ketrampilan Literasi
3⃣Mengurus diri sendiri
4⃣Berkomunikasi
5⃣Melayani
6⃣Menghasilkan makanan
7⃣Perjalanan Mandiri
8⃣Memakai teknologi
9⃣Transaksi keuangan
๐Ÿ”ŸBerkarya

☘3Hal yang diperlukan secara mutlak di orangtua dalam melatih kemandirian anak adalah :
1⃣Konsistensi
2⃣Motivasi
3⃣Teladan

Silakan tengok diri kita sendiri, apakah saat ini kita termasuk orangtua yang mandiri?

☘Dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak
1⃣Rumah harus didesain untuk anak-anak
2⃣Membuat aturan bersama anak-anak
3⃣Konsisten dalam melakukan aturan
4⃣Kenalkan resiko pada anak
5⃣Berikan tanggung jawab sesuai usia anak

_Ingat, kita tidak akan selamanya bersama anak-anak.Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita_

Salam,


/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

_Sumber bacaan_
_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, antologi, gaza media, 2014_
_Septi Peni, Mendidik anak mandiri, pengalaman pribadi, wawancara_
_Aar Sumardiono, Ketrampilan dasar dalam mendidikan anak sukses dan bahagia, rumah inspirasi_


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Resume Diskusi & Pertanyaan Materi Sesi #2




➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Share video melatih kemandirian anak




➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖