Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1
KOMUNIKASI PRODUKTIF
Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif, agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan, baik kepada diri sendiri, kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.
KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI
Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.
Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.
Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir dan cara kita berpikir
Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.
Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda
Kata
Masalah gantilah dengan
Tantangan
Kata
Susah gantilah dengan
Menarik
Kata
Aku tidak tahu gantilah
Ayo kita cari tahu
Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.
Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.
Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya
Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.
Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.
KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN
Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.
Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.
Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki
Frame of Reference (FoR) dan
Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.
FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.
FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.
FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.
Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.
Komunikasi dilakukan untuk
MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.
Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA
Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu, pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.
Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi
MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.
Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI;
bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi
Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.
Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.
Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.
Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.
Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:
1.
Kaidah 2C: Clear and Clarify
Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.
Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.
2.
Choose the Right Time
Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.
3.
Kaidah 7-38-55
Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.
Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).
Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?
Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.
4.
Intensity of Eye Contact
Pepatah mengatakan _mata adalah jendela hati_
Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.
5.
Kaidah: I'm responsible for my communication results
Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.
Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.
Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.
KOMUNIKASI DENGAN ANAK
Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.
Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy
Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.
Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.
Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.
Bagaimana Caranya ?
a.
Keep Information Short & Simple (KISS)
Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.
✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya” ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)
b.
Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah
Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh
⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)
✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)
Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.
c.
Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”
✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”
d.
Fokus ke depan, bukan masa lalu
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”
✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”
e.
Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”
Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.
f.
Fokus pada solusi bukan pada masalah
⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”
✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.
g.
Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.
⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:
“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”
✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”
“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”
h.
Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman
⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”
✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.
I.
Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi
⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?
✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya bahagia sekali di sekolah, boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”
j.
Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"
✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?
k.
Ganti perintah dengan pilihan
⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”
✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi, baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat
Salam Ibu Profesional,
/Tim Bunda Sayang IIP/
Sumber bacaan:
_Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000_
_Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015_
_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014_
_Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari_
https://youtu.be/qr9j0Xz9oUU
12 Gaya Populer, Penghambat Komunikasi Kita
π _Hari baru, Semangat Baru_
Satu
minggu sudah kita memperdalam materi "Komunikasi Produktif". Dan
teman-teman saat ini sedang melatih kekonsistenan diri dalam menjaga
komunikasi dengan diri kita sendiri, dengan partner atau rekan kerja
dan dengan anak-anak kita. Banyak tantangan ya pasti, tapi seru. Di
pekan pertama ini, kami ingin berbagi tentang 12 gaya populer, yang
menghambat komunikasi kita.
Mungkin sebagian besar
dari kita sudah sering mendengar tentang 12 gaya populer
(parenthogenic). Tanpa kita sadari, secara turun temurun 12 gaya
komunikasi ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari.
Ketika
anak sedang atau tidak bermasalah pun, jika kita sering meresponnya
dengan menggunakan 12 gaya populer ini, anak akan merasa tidak percaya
dengan emosi atau perasaannya sendiri.
Padahal
sangat penting bagi anak untuk belajar percaya dengan perasaannya dan
dirinya, hal tersebut akan mendukung perkembangan emosinya dan mendorong
anak tumbuh menjadi percaya diri.
Jika
perkembangan emosi anak baik, ia juga akan memiliki kontrol diri yang
baik ketika menghadapi suatu masalah, bahkan ia akan mampu menyelesaikan
masalahnya sendiri.
Berikut adalah contoh-contoh 12 gaya populer:
1⃣Memerintah,
contoh: “Mama tidak mau dengar alasan kamu, sekarang masuk kamar dan bereskan kamarmu!”
2⃣Menyalahkan,
contoh:
Ketika anak tidak bisa mengerjakan soal PRnya, ayah berkata, “Tuh kan.
Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah dan malas belajar”
3⃣Meremehkan,
contoh: “Masak pakai sepatu sendiri saja tidak bisa, bisanya apa dong Kak?”
4⃣Membandingkan,
contoh: “Kok kamu diminta naik ke panggung saja tidak mau sih Kak, tuh lihat Andi saja mau”
5⃣Memberi cap,
contoh:”Dasar anak bodoh, disuruh beli ini saja salah!”
6⃣Mengancam,
contoh: “Kalau kamu tidak mau makan lagi, kamu tidak akan dapat uang jajan selama seminggu!”
7⃣Menasehati,
contoh: “Makanya, kalau mau makan cuci tangannya dulu, nak… Tangan kan kotor banyak kumannya…”
8⃣Membohongi,
contoh: “Disuntik tidak sakit kok nak, seperti digigit semut aja kok”
9⃣Menghibur,
contoh:
Ketika adik menemukan bahwa es krim nya dimakan oleh kakaknya tanpa
sepengetahuannya, bunda berkata, “Sudah ya sayang, besok bunda belikan
lagi es krimnya, lebih enak dari yang dimakan kakak tadi”
πMengeritik,
contoh: “Lihat tuh! Masak mengepel masih kotor dimana-mana begitu. Mengepelnya yang benar dong!”
1⃣
1⃣Menyindir,
contoh: “Hmmm… Pintar ya? Sudah mandi, sekarang main tanah dan pasir lagi”
1⃣
2⃣Menganalisa,
contoh: “Kalau begitu, yang mengambil bukumu bukan temanmu, mungkin kamu tinggalkan di tempat lain…”
Aha!
makin banyak yang harus kita perbaiki ya, ayo lanjutkan tantangan 10
hari teman-teman, dengan kualitas komunikasi yang semakin bagus.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
_Sumber bacaan_:
_Elly Risman, Penghambat Komunikasi Dalam Keluarga, artikel, 2014_
_Tim Fasilitator Bunda sayang IIP, Hasil Tantangan 10 hari, komunikasi produktif, 2017_
BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP HASIL KOMUNIKASI KITA
Bulan ini bagi teman-teman yang sudah bisa menyelesaikan tantangan 10 hari, akan mendapatkan badge yang bertuliskan
I'm responsible for my communication result
Artinya
apabila hasil komunikasi kita dengan pasangan hidup, dengan anak-anak,
dengan teman-teman di komunitas, rekan kerja dan masyarakat sekitar
kita, tidak sesuai harapan, maka jangan salahkan penerima pesan, kitalah
yang bertanggung jawab untuk mengubah strategi komunikasi kita.
Contoh
kasus saya pernah jengkel dengan assisten rumah tangga saya yang biasa
dipanggil budhe. Berkali-kali diberitahu cara setrika yang benar, tapi
hasilnya selalu salah.
Kondisi seperti ini biasanya akan menyulut emosi kita ke penerima pesan.
Maka saya harus segera mencari orang ketiga untuk cari solusi lain.
Saya ceritakan kondisi ini ke pak dodik, beliau hanya menjawab simple
"Kalau sekali saja diberitahu langsung paham, maka budhe itu sudah pasti jadi manager sebuah bank, bukan kerja di rumah ini"
(
π beginilah salah satu gaya komunikasi pak dodik)
Hmmm....sayalah
yang harus mengubah strategi komunikasi saya, artinya gaya komunikasi
saya tidak tepat saat itu, bukan salah budhe.
Akhirnya ketemulah pola, kalau berkomunikasi dengan budhe harus diberi contoh, tidak hanya diberitahu lewat omongan saja.
Ini
baru satu contoh komunikasi kita dengan assisten rumah tangga, belum
lagi kasus komunikasi kita dengan ibu kita atau dengan ibu mertua kita,
pasti makin kompleks. Dan yakinlah semua itu membuat kita makin terampil
berkomunikasi, selama kita tidak menyalahkan hasil komunikasi kepada
orang yang kita ajak bicara.
There is NO failure, only WRONG RESULT, so we have to CHANGE our strategy
Tidak
ada kegagalan berkomunikasi itu yang ada hanya hasil yang berbeda,
tidak sesuai harapan, untuk itu segera ubah strategy komunikasi anda.
Ingat
satu hal ini, pada dasarnya kebutuhan manusia yang paling dalam adalah
keinginan agar perasaannya didengar, diterima, dimengerti dan dihargai.
Jadi
dalam komunikasi, kita perlu meningkatkan kemampuan kita dalam mencoba
memahami perasaan orang lain, apakah itu teman, pasangan hidup, rekan
kerja, atasan, anak atau siapapun juga yang menjadi lawan bicara kita.
Untuk
anak-anak, seringkali mereka belum mampu untuk mengatakan apa yang
mereka rasakan, bisa jadi karena perbendaharaan kata mereka yang belum
banyak.
Maka mereka akan menggunakan bahasa tubuh bahkan jauh ketika mereka belum pandai berbicara.
Sebagai
orang tua maka kita harus meningkatkan kepekaan kita dalam menangkap
makna dibalik bahasa tubuh dan perasaan apa yang mendasari sehingga kita
bisa memahami perasaan yang ingin disampaikan si anak.
Rasa
kurang percaya diri biasanya muncul karena kita “menidakkan perasaan”
sehingga lawan bicara menjadi bingung, kesal, tidak mengenali
perasaannya sendiri akhirnya tidak percaya pada perasaannya sendiri.
Jadi ingat dialog saya dan ibu waktu kecil
Saya : “Ibu, aku benci sama pak Guru. Tadi aku dimarahi di depan kelas”
Ibu : “Pasti kamu melakukan kesalahan makanya pak Guru marah sama kamu. Tidak mungkin kan pak Guru tiba-tiba marah”
Kalimat itu membuat saya jengkel sekali karena ibu seakan-akan justru membela pak guru dan otomatis menyalahkan saya.
Padahal saya hanya ingin di dengarkan. Sehingga kalimat
"Mbak jengkel banget ya sama pak guru, sini duduk sebelah ibu, minum teh hangat, dan mbak lanjutkan ceritanya"
Selamat melanjutkan tantangan komunikasi anda, jangan pernah menyerah walau kadang anda merasa lelah.
Salam Ibu Profesional,
/Septi Peni/
Sumber bacaan :
_Pengalaman pribadi dalam menghadapi tantangan komunikasi sehari-hari_
Review Bagian Satu
Review Tantangan 10 Hari_
_Materi Bunda Sayang #1 :_
_Institut Ibu Profesional_
KOMUNIKASI PRODUKTIF
(Bag.1)
Pertama,
Kami ucapkan selamat kepada teman-teman yang telah melampaui tantangan
10 hari dalam berkomunikasi produktif, dinamika yang terpancar dalam
tantangan 10 hari ini sungguh beragam. Mulai dari memperbincangkan hal
teknis sampai dengan tantangan nyata komunikasi kita dengan diri
sendiri, dengan pasangan dan dengan anak-anak. Mungkin beberapa diantara
kita tidak menyadari pola komunikasi yang terjadi selama ini, tetapi
setelah mengamati dan menuliskannya selama 10 hari berturut-turut dengan
sadar, baru kita paham dimana titik permasalahan inti dari pola
komunikasi keluarga kita.
KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI
Dari
“TANTANGAN 10 HARI” sebenarnya kita bisa melihat pola komunikasi dengan
diri kita sendiri, bagaimana kita memaknai satu kalimat di atas. Limit
yang kita tentukan bersama di tantangan ini adalah 10 hari, maka kita
bisa melihat masuk kategori tahap manakah diri kita :
a.
Tahap Anomi : Apabila diri kita belum memperlihatkan tanda-tanda awal
perilaku yang dinyatakan dalam indikator, belum mulai menulis tantangan
10 hari satupun, karena mungkin belum memahami makna dari sebuah
konsistensi.
b.Tahap Heteronomi : Apabila diri kita
sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang
dinyatakan dalam indikator, tapi belum konsisten. Kadang menuliskannya,
kadang juga tidak. Hal ini karena dipicu oleh pemahaman dan mendapatkan
penguatan dari lingkungan terdekat yang membentuk opini dan persepsi
sendiri.
c. Tahap Sosionomi : Apabila diri kita
sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang
dinyatakan dalam indikator, dan sudah mulai konsisten. Menjalankan
tantangan tepat 10 hari. Hal ini karena dipicu sebuah kesadaran dan
mendapat penguatan dari lingkungan terdekat.
d.
Tahap Autonomi : Apabila diri kita terus menerus memperlihatkan perilaku
yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten, tidak hanya berhenti
pada tantangan 10 hari, anda terus melanjutkannya meski tidak ada yang
menyuruh, tidak ada yang menilai. Berkomunikasi produktif sudah menjadi
budaya dalam kehidupan anda.
“10 Hari” adalah Limit terendah kita, hal tersebut hanyalah sebuah tetapan untuk mempermudah tercapainya sebuah tujuan.
Maka
komunikasi kita dengan diri sendiri harus bisa terus mengupgrade limit
tersebut. Dari sekarang kita harus paham benar bahwa limit kita adalah
unlimited. Tidak ada yang mampu membatasi kita kecuali diri kita
sendiri. Dengan konsep tersebut maka tidak ada yang tidak mungkin.
Tentukan limit anda setinggi mungkin untuk diraih dan selalu diperbarui.
Kuncinya adalah komunikasi produktif dengan diri sendiri.
_The
greater danger of most of us is not that our aim is too high and we
miss it, but it is too low and we reach it_ – Bahaya besar bukan karena
kita mempunyai target tapi tak mampu mencapainya. Akan jauh lebih
berbahaya jika kita mempunyai target yang terlalu rendah dan kita
berhasil mencapainya – Michael angelo
Review Bagian Dua
KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN
Dalam
prakteknya ternyata ini menjadi bagian yang sangat seru yang dihadapi
oleh teman-teman semua. Karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi
pola komunikasi anda dengan pasangan
yaitu :
a. Faktor Eksteropsikis ( Ego sebagai Orangtua)
Yaitu
bagian dari kepribadian yg menunjukkan sifat-sifat orang tua, berisi
perintah (harus & semestinya). Jika individu merasa dan bertingkah
laku sebagaimana orang tuanya dahulu, maka dapat dikatakan bahwa
individu tersebut dalam status ego orang tua. Status ego orang tua
merupakan suatu kumpulan perasaan, sikap, pola-pola tingkah laku yang
mirip dengan bagaimana orang tua individu merasa dan bertingkah laku
terhadap dirinya..
contoh : Seperti tindakan
menasihati orang lain, memberikan hiburan, menguatkan perasaan,
memberikan pertimbangan, membantu, melindungi, mendorong untuk berbuat
baik adalah sikap yang nurturing parent (NP).
Sebaliknya
ada pula sikap orang tua yang suka menghardik, membentuk, menghukum,
berprasangka, melarang, semuanya disebut dengan sikap yang critical
parent (CP).
b. Faktor Arkeopsikis ( Ego sebagai anak-anak)
Yaitu
bagian dari kepribadian yang menunjukkan ketidakstabilan, reaktif,
humor, kreatif, serta inisiatif,masih dalam perkembangan, berubah-ubah,
ingin tahu dan sebagainya. Status ego anak berisi perasaan, tingkah laku
dan bagaimana berpikir ketika masih kanak-kanak dan berkembang bersama
dengan pengalaman semasa kanak-kanak
contoh :
Dibedakan antara natural child (NC) yang ditunjukkan dalam sikap ingin
tahu, berkhayal, kreatif, memberontak. Sebaliknya yang bersifat adapted
child (AC) adalah mengeluh, ngambek, suka pamer, dan bermanja diri.
c. Faktor Neopsikis ( Ego sebagai orang dewasa)
Yaitu
bagian dari kepribadian yg objektif, stabil, tidak emosional, rasional,
logis, tidak menghakimi, berkerja dengan fakta dan kenyataan-kenyataan,
selalu berusaha untuk menggunakan informasi yang tersedia untuk
menghasilkan pemecahan yang terbaik dalam pemecahan berbagai masalah.
Dalam status orang dewasa selalu akan berisi hal-hal yang produktif,
objektif, tegas, dan efektif dan bertanggung jawab dalam menghadapi
kehidupan. Jika individu bertingkah laku sesuai dengan yang telah
disebutkan tadi, maka individu tersebut dikatakan dalam status ego
dewasa..
contoh : Mengambil kesimpulan, keputusan
berdasarkan fakta-fakta yang ada. Suka bertanya, mencari atau
menunjukkan fakta-fakta, ber¬sifat rasional dan tidak emosional,
bersifat objektif dan sebagainya, adalah ciri-ciri komunikasi orang
dewasa.
Ketiga Ego tersebut dimiliki setiap orang,
kita lihat dari caranya berkomunikasi, kalimat yang dipilih dan bahasa
tubuh yang digunakan.
ANALISIS TRANSAKSIONAL KOMUNIKASI
a. TRANSAKSI KOMPLEMENTER
jenis
transaksi ini merupakan jenis terbaik dalam komunikasi antarpribadi
karena terjadi kesamaan makna terhadap pesan yang mereka pertukarkan,
pesan yang satu dilengkapi oleh pesan yang lain meskipun dalam jenis
sikap ego yang berbeda. Transaksi komplementer terjadi antara dua sikap
yang sama, sikap dewasa. Transaksi terjadi antara dua sikap yang berbeda
namun komplementer. Kedua sikap itu adalah sikap orang tua dan sikap
anak-anak. Komunikasi antarpribadi dapat dilanjutkan manakala terjadi
transaksi yang bersifat komplementer karena di antara mereka dapat
memahami pesan yang sama dalam suatu makna.
Contoh :
ketika suami meminta kita berbicara berdasarkan fakta, maka balas komunikasi tersebut dengan hal-hal yang logis.( ego dewasa)
suami : : “Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?”( menggunakan data dan logika - ego dewasa)
istri : “ayo kita cari tahu bareng, terakhir ayah lepas arloji itu dimana? ( menggunakan e go dewasa)
b. TRANSAKSI SILANG
terjadi
manakala pesan yang dikirimkan komunikator tidak mendapat respons
sewajarnya dari komunikan. Akibat dari transaksi silang adalah
terputusnya komunikasi antarpribadi karena kesalahan dalam memberikan
makna pesan. Komunikator tidak menghendaki jawaban demikian, terjadi
kesalah¬pahaman sehingga kadang-kadang orang beralih ke tema pembicaraan
lain.
Contoh :
ketika partner kita mengajak komunikasi berdasarkan ego dewasa, kita menanggapinya dengan ego anak-anak.
Suami : “Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?”( menggunakan data dan logika - ego dewasa)
Istri : “Mana kutahu, aku udah capek seharian ngurus anak-anak, masih diminta ngurus arloji” ( menggunakan ego anak-anak )
pasti akan menyulut respon emosi.
c. TRANSAKSI TERSEMBUNYI
jika
terjadi campuran beberapa sikap di antara komunikator dengan komunikan
sehingga salah satu sikap menyembunyikan sikap yang lainnya. Sikap
tersembunyi ini sebenarnya yang ingin mendapatkan respons tetapi
ditanggap lain oleh si penerima. Bentuk-bentuk transaksi tersembunyi
bisa terjadi jika ada 3 atau 4 sikap dasar dari mereka yang terlibat
dalam komunikasi antar¬pribadi namun yang diungkapkan hanya 2 sikap saja
sedangkan 1 atau 2 lainnya ter¬sembunyi.
Contoh:
Seorang
ibu masuk ke dalam sebuah toko untuk membeli sebuah lemari es. Sang
penjual memperlihatkan beberapa merk, dengan menyebutkan harganya. Sang
ibu melihat lemari es yang tinggi dan bertanya: “Berapa harga yang
tinggi itu?” (ungkapan dari ego state dewasa dan mengharapkan respon
dari ego state dewasa juga).
Penjual itu kemudian
menanggapi: “Yang itu terlalu mahal bagi Ibu.” Tanggapan ini memang
terlihat sebagai transaksi antara ego state dewasa dan dewasa, tetapi
ada unsur tersembunyi di dalamnya yang tidak jadi terumuskan, yaitu:
“Ibu tidak mempunyai cukup uang untuk membeli yang mahal itu”. Kemudian
sang ibu merasa tersinggung, dan memang begitulah maksud penjual itu,
menyinggung perasaan sang ibu dengan mengatakan bahwa ibu itu tidak
mampu membeli lemari es yang mahal.
Menanggapi
pernyataan itu, untuk membuktikan bahwa dirinya mampu membeli barang
mahal itu, sang ibu lalu berkata: “Yang tinggi itu mau saya beli!”.
Review bag. 3
BERKOMUNIKASI SESUAI BAHASA CINTA ANAK
Menurut
Gary Champan & Ross Campbell, MD, dalam buku mereka yang bertajuk
The Five Love Languages of Children, terdapat 5 cara anak dan manusia
memahami dan mengekspresikan cinta, yakni;
1. Sentuhan Fisik,
2. Kata-kata Mendukung,
3. Waktu Bersama,
4. Pemberian Hadiah,
5. Pelayanan.
Umumnya
setiap anak bisa menerima cinta melalui 5 bahasa di atas, namun ada
satu bahasa yang paling dominan pada masing-masing anak. Berikut adalah
tips dalam berkomunikasi dengan si kecil sesuai bahasa cintanya.
1. Apabila bahasa cinta anak kita adalah Sentuhan Fisik
* Saat bertemu dan berpisah dengan si kecil, berilah pelukan.
* Saat si kecil stres, beri belaian untuk menenangkannya.
* Peluk dan cium si kecil saat ia tidur malam dan bangun pagi.
*
Setelah mengajar disiplin pada si kecil, beri pelukan sejenak dan
jelaskan bahwa pengajaran yang diberikan adalah untuk kebaikannya dan
Anda tetap sayang padanya.
* Saat memilih hadiah untuknya, beri benda yang dapat ia pegang/peluk, seperti bantal, boneka, atau selimut.
* Saat menghabiskan waktu bersama si kecil, seperti menonton televisi bersama, duduklah berdekatan dengannya, sambil berpelukan.
* Sering-seringlah bertanya padanya apakah ia mau digandeng atau dipeluk.
* Apabila ia terluka, pegang dan peluk mereka untuk memberi kenyamanan.
2.Apabila bahasa cintanya adalah Kata-kata Mendukung
* Saat menyiapkan bekal untuknya, masukkan kertas kecil berisi kata-kata mendukung.
*
Saat ia berhasil mencapai prestasi, tunjukkan rasa bangga Anda dengan
memberi kata-kata membangun, seperti “Mama bangga dengan adik bermain
adil di permainan tadi,” atau “Kakak baik sekali membantu adik membangun
rumah-rumahan itu.”
* Simpan hasil karya si kecil,
seperti lukisan atau tulisan, dan pajang dengan tambahan tempelan kertas
mengapa Anda bangga dengan karyanya itu.
* Biasakan mengucap kata, “Mama sayang kamu,” tiap berpisah dengan si kecil atau menidurkannya di malam hari.
* Saat si kecil bersedih, bangun kepercayaan dirinya dengan mengucapkan alasan-alasan yang membuat Anda bangga padanya.
3. Apabila bahasa cintanya adalah Waktu Bersama
*
Coba libatkan anak dalam aktivitas-aktivitas Anda, seperti belanja ke
supermarket, memasak, mencuci piring, dan lain sebagainya.
* Saat si kecil ingin bercerita, hentikan sejenak aktivitas Anda untuk benar-benar menatap dan mendengarnya.
* Ajak si kecil memasak bersama, seperti membuat kue atau camilan lainnya.
*
Tanyakan kepada si kecil mengenai tempat-tempat yang ingin ia kunjungi,
dan jika ada kesempatan, beri kejutan dengan mengajak mereka ke
tempat-tempat tersebut.
* Biasakan untuk memintanya menceritakan hari yang ia lalui di sekolah atau aktivitas lain yang telah ia lakukan.
* Saat mengajak si kecil bermain, bermainlah bersamanya ketimbang hanya menonton.
*
Jika Anda memiliki lebih dari 1 anak, tetapkan jadwal bermain dengan
masing-masing anak secara individu, tanpa melibatkan yang lain.
4. Apabila bahasa cintanya adalah Pemberian Hadiah
* Kumpulkan hadiah-hadiah kecil (tak perlu mahal) untuk diberikan kepada si kecil di saat-saat yang pas.
* Bawa permen atau camilan kecil lain yang dapat Anda berikan pada si kecil saat sedang bepergian.
* Beri makanan kesukaan si kecil, Anda bisa memasaknya sendiri atau mengajak si kecil ke restoran kesukaannya.
* Buah sebuah “kantong hadiah” berisi hadiah-hadiah (tak perlu mahal) yang dapat dipilih si kecil saat ia melakukan prestasi.
* Saat menyiapkan bekal untuknya, selipkan hadiah kecil untuknya.
* Buatkan semacam permainan teka-teki untuknya mencari hadiah dari Anda.
* Daripada membeli hadiah ulang tahun yang mahal, buatkan pesta ulang tahun meriah di tempat yang ia sukai.
5. Apabila bahas cintanya adalah Pelayanan
* Temani ia saat mengerjakan pekerjaan rumahnya.
* Saat ia sedih atau menghadapi kesulitan, buatkan makanan kesukaannya.
* Daripada menyuruhnya tidur, gendong atau gandeng mereka ke tempat tidur.
* Saat sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah, bantu mereka memilih pakaian untuk hari itu.
*
Mulai ajarkan si kecil mengasihi orang lain dengan memberi contoh
membantu orang lain atau memberi sumbangan kepada orang yang kurang
mampu.
* Saat si kecil sakit, angkat semangatnya dengan menonton film, membaca buku, atau masak sup yang ia sukai.
* Saat menyiapkan sarapan, makan siang, atau makan malam, selipkan makanan penutup atau camilan kesukaan mereka.
Cara mengamati bahasa cinta anak :
1. Amati cara si Kecil mengekspresikan cintanya pada Mama
Apabila
si Kecil seringkali mengucapkan “Aku sayang Mama” atau “Terima kasih
Mama atas makan malam yang enak”, Bahasa Cinta yang dominan padanya
mungkin adalah “Kata-kata Mendukung”.
2. Amati cara si Kecil mengekspresikan cinta kepada orang lain
Apabila
si Kecil seringkali ingin memberikan hadiah kepada teman atau gurunya,
mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Pemberian Hadiah”.
3. Pelajari apa yang seringkali diminta oleh si Kecil
Apabila
si Kecil sering meminta Mama untuk menemaninya bermain atau membacakan
cerita untuknya, maka Bahasa Cinta yang dominan padanya mungkin “Waktu
Bersama”. Sedangkan kalau si Kecil sering meminta pendapat Mama mengenai
apapun yang sedang dilakukannya, seperti “Mama suka ga sama gambarku?”
atau “Bajuku bagus ga Ma?”, mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya
adalah “Kata-kata Mendukung”.
4. Pelajari apa yang seringkali dikeluhkan oleh si Kecil
Apabila
si Kecil sering mengeluh mengenai kesibukan Mama atau Papa diluar
rumah, seperti “Papa kok kerja terus yah” atau “Mama kok ga pernah
mengajakku ke taman lagi,” maka mungkin Bahasa Cinta yang dominan
padanya adalah “Waktu Bersama”.
5. Beri 2 pilihan kepada si Kecil
Dalam
melakukan aktivitas sehari-hari, Mama bisa menanyakan apa yang
diinginkan si Kecil, untuk menemukan Bahasa Cinta yang dominan padanya.
Pertanyaan yang diberikan dapat berupa pilihan antara 2 Bahasa Cinta.
Contohnya, saat Mama ada waktu luang, dapat memberi pilihan kepada si
Kecil seperti “Sore ini adik mau Mama temani jalan-jalan atau mau Mama
betulkan rok adik yang rusak?”, dengan memberi pilihan ini maka Mama
memberikan pilihan antara Bahasa Cinta “Waktu Bersama” atau “Pelayanan”.
_Sumber bacaan_:
_Gary Chapman & Ross campbell M.D, The 5 Love language of children, jakarta, 2014_
_Eric Berne, Games people Play, jakarta_
_Eric Berne, Transaksional Analysis, jakarta._